Ahmad Irfan AW

Servant

Monthly Archives: Desember 2011

Berhenti Berteriak, Berkata Baik, atau Diam

Salah satu kebiasaan yang ditemui pada penduduk di sekitar kep Solomon, di Pasifik Selatan yakni meneriaki pohon. Kebiasaan ini mereka lakukan pada pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak. Tujuannya supaya pohon itu mati.

Caranya, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu. Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari. Dan, apa yang terjadi sungguh sangat menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya mulai mengering, ini fakta ! Setelah itu dahan-dahannya juga mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan mudah ditumbangkan.

Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya. Akibatnya makhluk hidup itu akan mati. Pernahkah Anda berteriak pada anak Anda? orang di sekeliling anda atau siapapun? Berteriak seperti: Ayo cepat ! Dasar lelet ! Bego banget sih ! Begitu aja nggak bisa dikerjakan ? Jangan main-main disini ! Berisik ! Atau, mungkin Anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup Anda karena Anda merasa sakit hati. Suami/istri seperti kamu nggak tahu diri ! Bodoh banget jadi laki/bini nggak bisa apa-apa ! Aduuuuh, perempuan / laki kampungan banget sih !? Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya : Goblok, soal mudah begitu aja nggak bisa ! Kapan kamu jadi pinter ?

Sahabat, Ingatlah! . Setiap kali Anda berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk kepulauan Solomon ini. Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai. Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita. Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita perlahan -lahan, pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan anda.

Dalam kehidupan sehari-hari. Teriakan, hanya di berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, benar? Nah, mengapa orang yang marah dan emosional mengunakan teriakan-teriakan padahal jarak mereka dekat bahkan hanya bisa dihitung dalam centimeter. Mudah menjelaskannya. Pada realitanya, meskipun secara fisik dekat tapi sebenarnya hati begitu jauh. Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak! Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar  mereka pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh orang yang dimarahi karena perasaan-perasaan dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki.

Kita berteriak karena kita ingin melukai dan kita ingin membalas. Jadi mulai sekarang Jika tetap ingin roh pada orang yang anda sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan. Dengan berteriak kepada orang lain ada 2 kemungkinan balasan yang Anda akan terima. Anda akan dijauhi atau Anda akan mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya. Sumber : Belajar Makna Teriak dari Penduduk Kep. Solomon

Pelajaran Berharga dari Pulau Solomon

…Selama ini tanpa sadar kita mungkin telah ”membunuh” anak, baik anak kita sendiri maupun anak didik kita, dengan cara yang hampir sama dengan cara orang Solomon: membentak keras saat anak melakukan kesalahan, mengucapkan kata-kata kasar, dan memberi stigma buruk dengan kata bodoh, ceroboh, malas, dan sebagainya. Maka jadilah anak-anak yang benar-benar bodoh, ceroboh, malas, dan lain-lain sebagaimana kita ucapkan.

Sebuah pencerahan bagi kita, baik sebagai orang tua maupun seorang guru: Terimalah anak-anak kita apa adanya. Bantulah mereka saat mengalami kesulitan, sugestilah dengan kata-kata positif, dan biarlah mereka berkembang sesuai jati dirinya. Tanpa kekerasan, tanpa kata-kata kotor, dan tanpa stigma buruk. Hentikan memvonis anak kita dengan kata ”dasar bodoh”, ”dasar malas”, ”dasar bandel”, dan sejenisnya!

Ada sebuah penelitian yang diceritakan Ajah Brahm, seorang Amerika lulusan Fisika yang memilih menjadi biksu di pedalaman hutan Thailand. Anak-anak satu jenjang pendidikan dibagi dua kelas, kelas A dan kelas B. Kelas A diberi label kelas unggulan dan kelas B diberi label kelas biasa.

Tanpa sepengetahuan siapa-siapa (kecuali peneliti), anak-anak dalam kedua kelas itu sebenarnya pada awalnya dapat dikatakan homogen, atau tidak ada perbedaan yang siginikan. Sama-sama pintar, sama-sama cerdas. Lalu, keduanya diajar dengan guru-guru yang sama, metode yang sama dan fasilitas yang sama. Perbedaan perlakuan hanya pada pemberian label unggulan dan biasa.

Apa yang terjadi pada akhir tahun? Anak-anak dalam kelas unggulan ternyata memiliki prestasi yang benar-benar unggul, sementara anak-anak dalam kelas biasa, prestasinya juga biasa-biasa saja. Sebuah bukti ilmiah bahwa anak-anak akan menjadi yang seperti kita labelkan padanya. (MULYOTOGuru Matematika SMK Negeri 1 Pungging Mojokerto). Sumber : Pelajaran Berharga dari Pulau Solomon

Masih tentang Teriakan dan Perkataan Baik

Orang yang belum mengerti hakikat dan karakteristik air sering mengira bahwa pengobatan alternative dengan cara meminum air yang telah diberi doa sebelumnya, merupakan suatu cara yang tidak ilmiah. Karena itu maka “layak” disebut sebagai cara yang tidak rasional. Namun, seorang peneliti Jepang terkenal, Dr. Masaru Emoto berhasil membuktikan bahwa air sanggup membawa pesan atau informasi dari apa yang diberikan kepadanya. Bahkan air yang diberi respon positif, termasuk doa, akan menghasilkan bentuk kristal heksagonal yang indah.

Hasil penelitian Masaru Emoto yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “The True Power Of Water” [Hikmah Air dalam Olahjiwa], (MQS Publishing, 2006), merupakan pengalaman menakjubkan karena membuktikan bahwa air ternyata “hidup” dan dapat merespon apa yang disampaikan manusia.

Temuan Masaru merupakan hasil kerja kerasnya sebagai wujud kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Ia bahkan melakukan percobaan dengan air di Swiss, Berlin dan Prancis. Temuannya itu kemudian ia bawa ke markas Besar PBB di New York.

Dr. Masaru Emoto melakukan penelitian selama 2 bulan bersama sahabatnya Kazuya Ishibashi (seorang ahli sains yang mahir menggunakan mikroskop). Masaru yang menyelesaikan pendidikannya di Yokohama Municipal University Departemen Kemanusiaan dan Sains jurusan Hubungan Internasional berhasil mendapatkan foto kristal air dengan membekukan air pada suhu -25 derajat Celsius dan menggunakan alat foto berkecepatan tinggi. Lalu ditelitilah air dengan menggunakan respon kata-kata, gambar, serta suara. Hasilnya luar biasa, sebagaimana yang sudah dibaca banyak orang. Air, katanya, bisa menerima pesan.

Bahkan dalam bukunya yang lain, “The Hidden Message in Water”, Masaru mengatakan, air seperti pita magnetik atau compact disk.

Kata-Kata

Air mengenali kata tidak hanya sebagai sebuah desain sederhana, tetapi air dapat memahami makna kata tersebut. Saat air sadar bahwa kata yang diperlihatkan membawa informasi yang baik maka air akan membentuk kristal. Jika kata positif yang diberikan, maka kristal yang terbentuk akan merekah luar biasa laksana bunga yang sedang mekar penuh, seakan ingin menggambarkan gerakan tangan air yang sedang mengekspresikan kenikmatannya.

Sebaliknya, jika kata-kata negative yang diberikan, maka akan menghasilkan pecahan kristal dengan ukuran yang tidak seimbang. Mungkin juga air dapat merasakan perasaan orang yang menulis kata tersebut. Jadi bisa dibayangkan bagaimana jika air diberi kumpulan kata yang merupakan doa?

Penerima Informasi 

Berdasarkan penelitian Dr.Masaru, semakin jelas terlihat bahwa kualitas air dapat menjadi lebih baik atau lebih buruk, bergantung pada informasi yang diterimanya. Hal ini membuat kita yakin bahwa kita, manusia, juga dipengaruhi oleh informasi yang kita terima karena 70% tubuh manusia dewasa adalah air.

Konsekuensi logisnya adalah manusia, sebagai makhluk yang sebagian besarnya terbentuk dari air, sudah seharusnya diberikan informasi yang baik. Jika kita melakukan hal ini, pikiran dan tubuh kita akan menjadi sehat. Di pihak lain, jika kita menerima informasi yang buruk, kita akan merasakan sakit. Sumber : Air Ternyata “Hidup” dan Dapat Merespon Apa Yang Disampaikan Manusia 

Allah SWT berfirman :

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Maa Yalfidzu Min Qoulin Illa Ladaihi Raqiibun ‘Atid(un)

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat Pengawas yang selalu hadir.” – Qaf : 18

Nabi SAW bersabda :

المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويدة

“Al-Muslimu man salima al-Muslimuna min lisanihi wa yadihi” 

“Muslim adalah orang menyelamatkan kaum muslim lainnya dari lisan dan tangannya” - Hadits Syarif

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata : dalam menukil perkataan Ibnu ‘Abbas :

Malaikat tersebut mencatat setiap perkataan hamba, yang baik maupun yang buruk hingga mereka menulis perkataan; saya berkata, saya minum, saya pergi, saya datang, dan saya melihat.”

Ibnu Katsir juga berkata:

“Disebutkan bahwa Imam Ahmad mengeluh ketika sakit. Kemudian ia mendengar Thawus berkata; Malaikat mencatat segala sesuatu hingga suara keluhan. Imam Ahmad pun tidak pernah mengeluh lagi hingga meninggal dunia, semoga Allah merahmatinya.”

Selamat Berhenti Berteriak, Selamat Berkata Baik, :)

Asyraf Hadhramaut

Asyraf Hadhramaut dan Peranan Mereka Dalam Menyebarkan Islam di Asia Tenggara

Dr. Muhammad Hasan Al-Aydrus (Pengajar Sejarah Modern di Universitas Uni Emirat Arab )

Diketik ulang oleh : Abdullah bin Gasim Al-Aydrus

Bogor, 17 september 2005

Diterjemahkan dari Asyraf Hadhramaut, karya Dr. Muhammad Hasan Al-Aydrus Terbitan Darul Mutanabbi, Abu Dhabi – UAE

Penerjemah : Ali Yahya, Diterjemahkan atas biaya Alwi bin Shaleh Al-Aydrus

Diterbitkan oleh Abdullah bin Ahmad Assegaf bekerja sama dengan Penerbit Lentera, Jl. Melati Bakhti No.7 Jakarta 13430

Desain Sampul : Eja Ass.

Cetakan pertama, Sya’ban 1416 H/ Januari 1996

Daftar isi

Persembahan

untuk ayahku tercinta

Hasan Ahmad Alwi Alaydrus

yang telah berjasa sejak awal adanya naskah ilmiah ini

tanpanya risalah ini tidak akan ada

cinta dan penghargaanku hanya untuk beliau

Pengantar

Asia Tenggara dianggap sebagai wilayah yang paling banyak pemeluk agama Islamnya. Yang termasuk wilayah ini adalah pulau-pulau yang terletak di sebelah Timur India sampai Lautan Cina dan mencakup Indonesia, Malaysia dan Filipina.

Islam masuk ke Asia Tenggara pada umumnya dan Indonesia pada khususnya dengan dakwah yang damai dan bukan dengan ketajaman mata pedang. Ia masuk dengan perantaraan orang-orang Arab Hadhramaut, dalam hal ini para syarif ( gelar untuk keturunan Rasul, Penj) dari keturunan Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa. Beliau diberi laqob (gelar) Al-Muhajir karena hijrah dari Bashrah setelah kota itu menghadapi serangan umum Khawarij dan pemberontakan orang-orang kulit hitam. Ketika itu ia memutuskan berngakat ke Hijaz dan menetap setahun di Madinah Al-Munawwarah ketika Makkah Menghadapi serangan orang-orang Qaramithah. Kemudian beliau melaksanakan haji dan thawaf mengelilingi ka’bah tanpa ada Hajar Aswad yang ketika itu bawa ke Hijr sehingga tempat batu itu menjadi kosong.

Kemudian Imam Ahmad bin Isa memutuskan hijrah ke Hadhramaut. Disana ia menghadapi orang-orang Khawarij, sehingga ia dan anak cucunya dapat menghapus mazhab Ibadhiy dan menyebarkan mazhab Syafi’i. Setelah itu salah satu cucunya Muhammad Shohib Marbath menyempurnakan perjalanannya dan menyebarkan mazhab Syafi’i di daerah Zhufar.

Para syarif hadhramaut juga hijrah ke Afrika Timur, India, dan Asia Tenggara untuk menyebarkan dakwah Islamiyah dan mengajarkan para penduduknya pokok-pokok ajrab agama yang hanif (lurus) ini.

Kita nanti akan sampai pada para da’i yang pertama dari kalangan syarif Hadhramaut yang memainkan peran pening dalam menyebarkan Islam di Asia Tenggara khususnya di Indonesia. Yang paling penting diantara mereka adalah para da’i pertama yang berjumlah 9 orang dan dikenal dengan nama ‘Sunan’ yang artinya “wali” dan sebagian besar dari mereka adalah para syarif hadhramaut dari keturunan Ahmad bin Isa.

  Baca tulisan ini lebih lanjut

Sistem Koordinat Geografis

Sistem koordinat geografi digunakan untuk menunjukkan suatu titik atau lokasi di Bumi berdasarkan garis lintang dan garis bujur.

Garis lintang yaitu garis vertikal yang mengukur sudut antara suatu titik dengan garis katulistiwa. Titik di utara garis katulistiwa dinamakan Lintang Utara, disingkat LU sedangkan titik di selatan katulistiwa dinamakan Lintang Selatan, disingkat LS.

Garis bujur yaitu garis horizontal yang mengukur sudut antara suatu titik dengan titik nol di Bumi. yaitu Greenwich di London Britania Raya yang merupakan titik bujur 0° atau 360° yang diterima secara internasional. Titik di barat bujur 0° dinamakan Bujur Barat, disingkat BB sedangkan titik di timur 0° dinamakan Bujur Timur, disingkat BT.

Dalam Bahasa Inggris; garis Lintang dikenal dengan Latitude, disingkat Lat. sedangkan garis Bujur dikenal dengan istilah Longitude, disingkat Lon.

Suatu titik di Bumi dapat dideskripsikan dengan menggabungkan kedua pengukuran tersebut.

Misal : 6° 10′ 12.9” Lintang Selatan (LS)  106° 49′ 27.0” Bujur Timur (BT) adalah lokasi dari “Istana Merdeka”

Pembacaan : “Enam derajat, sepuluh menit, dua belesa koma sembilan detik Lintang Selatan. Seratus enam derajat, empat puluh sembilan menit, duapuluh tujuh koma nol, Bujur Timur”

Setiap 60 detik, nilai menit naik satu angka, begitu juga setelah nilai menit berjumlah 60, nilai derajat naik satu angka. begitu seterusnya.

Ada tiga jenis format koordinat yang digunakan di GPS

1. hddd.ddddd° = Degrees.degrees (derajat koma derajat)
2. hddd°mm.mmm’ = Degrees minutes.minutes (derajat menit koma menit)
3. hddd°mm’ss.s”= Degrees minutes seconds.seconds (derajat menit detik koma detik)

kita bebas memilih yang mana, karena nilainya sama hanya beda penulisan. akan tetapi yang paling praktis adalah jenis yang nomer 1. yaitu ”derajat koma derajat”

Untuk mengkonversi jenis kordinat hddd°mm’ss.s” ke kordinat hddd°mm.mmm’ dan ke koordinat hddd.ddddd° adalah dengan cara sebagai berikut :

Contoh :

6° 10′ 12.9” Lintang Selatan (LS)  106° 49′ 27.0” Bujur Timur (BT)

Konversi ke koordinat hddd°mm.mmm’ :

6° (10+12.9/60)’ = 6° 10.215′ LS 

106° (49+27.0/60)’ = 106° 49.45′ BT

Konversi ke koordinat hddd.ddddd° :

6+((10/60)+(12.9/3600))°6.17025° LS 

106+((49/60)+(27.0/3600))° = 106.824167° BT

Konversi koordinat hddd.ddddd°  ke koordinat hddd°mm.mmm’ :

6.17025° = 0,17025*60% = 0,10215

dua angka dibelakang koma dipisah dengan titik sehingga menjadi 0,10.215 kemudian angka 0 diganti dengan angka di depan koma (dalam contoh ini 6) maka hasil akhirnya 6° 10.215′

Lintang Selatan dan Bujur Barat juga dapat ditulis dengan nilai “Negatif” sehingga koordinat “Istana Merdeka” di atas dapat ditulis juga : -6.17025106.824167

Konversi Koordinat : Navigasi.Net 

Qasidah Ya Arhamar Rahimin

Qasidah Imam Al-Habib Abdullah bin Husain Bin Tahir ( w. 1272 H)

ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ فَرِّجْ عَلَى الْمُسْلِمِينَ

 ياَ رَبَّناَ ياَ كَرِيمُ ياَ رَبَّناَ ياَ رَحِيمُ

أَنْتَ الْجَوّاَدُ الْحَلِيمُ وَأَنْتَ نِعْمَ الْمُعِينُ

 وَلَيْسَ نَرْجُو سِوَاكَ فَادْرِكْ إِلـهِي دَرَاكَ

قَبْلَ الْفَناَ وَالْهَلاَكِ يَعُمُّ دُنْياَ وَدِينَ

بِجاَهِ طَـهَ الرَّسُولِ جُدْ رَبَّناَ بِالْقَبُولِ

وَهَبْ لَناَ كُلَّ سُولٍ رَبِّ اسْتَجِبْ لِي أَمِينَ

وَاغْفِرْ لِكُلِّ الذُّنُوبِ وَاسْتُرْ لِكُلِّ الْعُيُوبِ

وَاكْشِفْ لِكُلِّ الْكُرُوبِ وَاكْفِ أَذَى الْمُؤْذِيِّينَ

وَاخْتِمْ بِأَحْسَنِ خِتاَمٍ إِذَا دَناَ اْلإِنْصِرَامُ

وَحاَنَ حِينُ الْحِماَمِ وَزاَدَ رَشْحُ الْجَبِينِ

ثُمَّ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى شَفِيعِ اْلأَناَمِ

وَاْلآلِ نِعْمَ الْكِرَامِ وَالصَّحْبِ وَالتَّابِعِينَ

  Baca tulisan ini lebih lanjut

Qasidah Assholatu ‘Alan Nabi

Qasidah Imam Syarafuddin Muhamad bin Sa’id Al-Busiri (W. 608 H)

اَلصَّلاَةُ عَلَى النَّبِيِّ * وَالسَّلاَمُ عَلَى الرَّسُول

اَلشَّفِيعِ اْلأَبْطَحِي * وَمُحَمَّد عَرَبِيّ

خَيْرُ مَنْ وَطِئَ الثَّرَى * اَلْمُشَفَّعُ فِي الْوَرَى

مَنْ بِهِ حُلَّتْ عُرَى * كُلِّ عَبْدٍ مُذْنِبِ

مَا لَهُ مِنْ مُشْبِهٍ *  فَازَ أُمَّتُهُ بِهِ

مَنْ يَمُتْ فِي حُبِّهِ * نَالَ كُلَّ الْمَطْلَبِ

يَا رَسُولَ اللهِ يَا * خَيْرَ كُلِّ اْلأَنْبِيَاء

نَجِّنَا مِنْ هَاوِيَه * يَا زَكِيَّ الْمَنْصِبِ

وَعَلَى عَلَمِ الْهُدَى * أَحْمَدَ مُفْنِي الْعِدَا

جُدْ بِتَسْلِيمٍ بَدَا * لِلنَّبِيِّ اْليَثْرِبِى

وَعَلَيْهِ فَسَلِّمَنْ * مَاسَ غُصْنٌ فِي الْحِمَا

أَوْ بَدَا بَدْرُ السَّمَا * فِي بَهِيمِ الْغَيْهَبِي

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِــهِ

  Baca tulisan ini lebih lanjut

Do’a Maulid Diba’ (Imam Ad-Diba’i)

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِـهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ ، جَعَلَنِيَ اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِمَّنْ يَسْتَوْجِبُ شَفاَعَتَهُ ، وَيَرْجُو مِنَ اللهِ رَأْفَتَهُ وَرَحْمَتَهُ ، اَللَّهُمَّ بِحُرْمَةِ هَذاَ النَّبِيِّ الْكَرِيمِ ، وَآلِـهِ الطَّاهِرِيْنَ ، وَأَصْحاَبِهِ السَّالِكِينَ عَلَى مِنْهاَجِهِ الْقَوِيمِ ، اِجْعَلْنَا مِنْ خِيَارِ أُمَّتِهِ ، وَاسْتُرْناَ بِذَيْلِ حُرْمَتِهِ ، وَاحْشُرْناَ غَدًا فِي زُمْرَتِهِ ، وَاسْتَعْمِلْ أَلْسِنَتَناَ فِي مَدْحِهِ وَنُصْرَتِهِ ، وَأَحْيِناَ مُتَمَسِّكِينَ بِسُنَّتِهِ وَطاَعَتِهِ ، وَأَمِتْناَ عَلَى حُبِّهِ وَجَماَعَتِهِ ، اَللَّهُمَّ أَدْخِلْناَ مَعَهُ الْجَنَّةَ فَإِنَّهُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُهَا ، وَأَنْزِلْناَ مَعَهُ فِي قُصُورِهَا فَإِنَّهُ أَوَّلُ مَنْ يَنْزِلُهَا ، وَارْحَمْناَ يَوْمَ يَشْفَعُ لِلْخَلاَئِقِ فَتَرْحَمُهَا ، اَللَّهُمَّ ارْزُقْناَ زِياَرَتَهُ فِي كُلِّ سَنَةٍ ، وَلاَ تَجْعَلْناَ مِنَ الْغَافِلِينَ عَنْكَ وَلاَ عَنْهُ قَدْرَ سِنَةٍ ، اَللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْ فِي مَجْلِسِناَ هذَا أَحَدًا إِلاَّ غَسَلْتَ بِمَاءِ التَّوْبَةِ ذُنُوبَهُ ، وَسَتَرْتَ بِرِدَاءِ الْمَغْفِرَةِ عُيُوبَهُ ، اَللَّهُمَّ إِنَّهُ كاَنَ مَعَناَ فَي السَّنَةِ الْماَضِيَةِ إِخْواَنٌ مَنَعَهُمُ الْقَضاَءُ عَنِ الْوُصُولِ إِلَى مِثْلِهَا ، فَلاَََ تَحْرِمْهُمْ مِنْ ثَوَابِ هذِهِ السَّاعَةِ وَفَضْلِهَا ، اَللَّهُمَّ ارْحَمْناَ إِذاَ صِرْناَ مِنْ أَصْحاَبِ الْقُبُورِ ، وَوَفِّقْناَ لِعَمَلٍ صاَلِحٍ يَبْقَى سَنَاهُ عَلَى مَمَرِّ الدُّهُورِ ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ ِلأَلآئِكَ ذَاكِرِينَ ، وَلِنَعْمَائِكَ شاَكِرِينَ ، وَلِيَوْمِ لِقآئِكَ مِنَ الذَّاكِرِينَ ، وَأَحْيِناَ بِطاَعَتِكَ مَشْغُولِينَ ، وَإِذاَ تَوَفَّيْتَناَ فَتَوَفَّناَ غَيْرَ مَفْتُونِينَ وَلاَ مَخْذُولِينَ ، وَاخْتِمْ لَناَ مِنْكَ بِخَيْرٍ أَجْمَعِينَ ، ( اَللَّهُمَّ اكْفِناَ شَرَّ الظَّالِمِينَ – 3x) Baca tulisan ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: