Ahmad Irfan AW

Pelayaran Tak Bertepi Samudera Ketuhanan

Arsip Kategori: Silsilah

Bahagia adalah Tujuan Terakhir dalam Hidup

BismiLlaah

Disarikan dari kajian Majlis Tasbih oleh: Guru Mulia KH DR M. Dhiyauddin Quswandhi (Emdeka Saka Guru) HafidzahulLâh tadi siang (Idul Qurb 1434 H.) di Pondok Pamulangan Luhur:

Sahabat

Semua manusia menginginkan kebahagiaan namun mengapa kebahagian tersebut justru hanya ada di depan kita? dan tak pernah bisa dialami dalam setiap keadaan? bahkan hanya menjadi harapan belaka?

Karena kita MENGGANTUNGKAN KEBAHAGIAAN pada TERCAPAINYA KEINGINAN dan kita jadikan kebahagiaan itu sebagai TUJUAN dan HARAPAN.

Padahal, kita tahu keinginan manusia tak terbatas sedangkan kemampuan manusia SANGAT TERBATAS. Maka jelas akan banyak harapan yang tak tercapai dan di situlah sumber penderitaan.

”Saya akan bahagia jika saya ……………………………….”

Kebahagiaan yang seperti ini adalah kebahagiaan inderawi yang tak lain hanyalah produk dari pikiran yang TAK DAPAT kita rasakan namun hanya ada dalam HAYALAN.

Lalu seperti apa KEBAHAGIAAN MAKNAWI yang SEJATI?

Kebahagiaan yang sejati adalah kebahagiaan yang dialami/dirasakan oleh jiwa/ruh manusia. Kapan dan di mana? Di sini dan kini dalam pusat kesadaran.

Saudaraku, bilamana jiwa manusia telah merasakan kebahagiaan yang hakiki, maka semua menjadi Indah.

Lalu bagaimana mencapainya?

Saudarku, ruh itu akan mengalami kebahagiaan hanya apabila ia berdekatan dengan Allah. Ya, karena ia adalah pencinta (Al-Muhib) yang tak ingin berpisah dengan YANG DICINTAINYA (Al-MAHBUB). La Mahbuban Illa Allaah

Lalau apa yang memisahkan?

Selisih yang memisahkan. Ya, selisih antara kehendak diri dengan kehendak Allah yang memisahkan. Maka hiduplah dengan keridha-an niscaya Allah pun Ridha.

Siapa yang menciptakan selisih? Ego-lah yang menciptakan selisih. Ego-lah yang menciptakan kehendak diri. Ego-lah yang memisahkan yang satu dengan yang lainnya. Ego-lah yang memisahkan jiwa dan Tuhanya.

Hiduplah dengan KASIH maka kebahagiaan akan selalu datang tanpa syarat dan batas baik dalam menempuh sebab maupun akibat, proses ataupun hasil, laku dan tuju.

Ya, ia akan selalu hadir dalam hidup ini, kini dan seterusnya, dalam segala waktu dan keadaan selama-lamanya.

Semoga kita semua dapat merasakan kebahagiaan-Nya yang sejati abadan abadaa. Aamiin birohmatiKa Yaa Arhama-r Rahimin.

wa ShallAllahu ‘ala Sayyidina Muhammadin wa Aalihi wa Shahbihi wa Baarka wa Sallam. WalhamduliLlahi Rabbil ‘Aalamiin.

Semoga bermanfaat.

Pangeran Jayakarta (Fatahillah)

Bismillāhirrahmānirrahīm

Pembahasan Tentang Asal-Usul Pangeran Jayakarta I, Pangeran Jayakarta II, Pangeran Jayakarta III, dan Pangeran Jayakarta IV (Ghafarallahu Lahum)

Pangeran Jayakarta I

Pangeran Jayakarta I @ Fatahillah @ Sunan Gunung Jati II @ Tubagus Pasai @ Fathullah Khan @ Falatehan

Beliau dalah tokoh yang mengusir Portugis dari pelabuhan perdagangan Sunda Kelapa dan memberi nama “Jayakarta” yang berarti Kota Kemenangan, yang kini menjadi kota Jakarta, Ibukota Negara Republik Indonesia.

Ia dikenal juga dengan nama Falatehan. Ada pun nama Sunan Gunung Jati dan Syarif Hidayatullah, yang sering dianggap orang sama dengan Fatahillah sebenarnya adalah mertua beliau.

Ceritanya, Setelah Sunan Gunung Jati yang bergelar Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awliya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah yang merupakan pendiri dinasti raja-raja Kesultanan Cirebon dan asal usul dari pendiri Kesultanan Banten serta penyebar agama Islam di Jawa Barat wafat, terjadilah kekosongan jabatan pimpinan tertinggi Kesultanan Cirebon. Pada mulanya calon kuat pengganti Sunan Gunung Jati ialah Pangeran Dipati Carbon, Putra Pangeran Pasarean, cucu Sunan Gunung Jati. Namun, Pangeran Dipati Carbon meninggal lebih dahulu pada tahun 1565.

Kekosongan pemegang kekuasaan itu kemudian diisi dengan mengukuhkan pejabat keraton yang selama Sunan Gunung Jati melaksanakan tugas dakwah, pemerintahan dijabat oleh Fatahillah atau Fathullah Khan. Fatahillah kemudian naik takhta, dan memerintah Cirebon secara resmi menjadi raja sejak tahun 1568. Fatahillah menduduki takhta kerajaan Cirebon hanya berlangsung dua tahun karena ia meninggal dunia pada tahun 1570, dua tahun setelah Sunan Gunung Jati wafat dan dimakamkan berdampingan dengan makam Sunan Gunung Jati di Gedung Jinem Astana Gunung Sembung.

Fatahillah adalah putra Sayyid Mahdar Ibrahim atau dikenal dengan Ibrahim Patakan bin Abdul Ghafur bin Barakat Zainal ‘Alam bin Jamaluddin Akbar bin Ahmad Syah Jalaluddin Akbar bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan. (Selengkapnya lihat tulisan sebelumnya tentang Ilmu Silsilah )

Beliau menikah dengan Ratu Ayu Pembayun binti Gusti Sinuhun Kangjeng Sunan Gunung Jati (Al Azmatkhan Al-Husaini) dan memiliki putra :

1. Ratu Wanawati Raras
2. P. Sendang Garuda
3. Ratu Ayu

Ratu Wanawati Raras menikah dengan sepupunya sendiri yang bernama P. Sendang Kamuning alias Pangeran Adipati Cirebon bin Muhammad Arifin Pangeran Pasarean bin Syaikh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Al Azmatkhan Al-Husaini) dan dikarunai putra, (salah satunya) bernama : Pangeran Ratu Pakungwati Pangeran Mas Zainul ‘Arifin yang kemudian menurunkan Sultan-Sultan Kanoman, Kasepuhan, dan Kacirebonan.

Fatahillah juga menikahi putri Raden Patah yang meninggalkan putera Tumenggung Nagawangsa Ki Mas Abdul Aziz, keturunannya adalah sebagian Bangsawan Palembang Darussalam yang menggunakan Gelar Kemas (Laki-Laki) & Nyimas (Perempuan)

Dengan istri putri Raden Patah, Fatahaillah juga meninggalkan putera Ki Bagus Abdurrohman, keturunanannya adalah sebagian Bangsawan Palembang Darussalam yang menggunakan Gelar Kiagus (Laki-Laki) & Nyayu (Perempuan)

Sedangkan untuk keturunan pancer beliau dari jalur Pangeran Sedang Garuda Cirebon belum ditemukan data keturunannya. BAGI ANDA YANG MEMILIKI INFORMASI TENTANG INI HARAP MENGHUBUNGI KAMI

Pangeran Jayakarta II 

Pangeran Jayakarta II @ Tubagus Angke @ Pangeran Gedeng Angke

Beliau adalah saudara Pangeran Muhammad Pelakaran, putra Pangeran Panjunan Cirebon @ Sayyid Abdurrahman bin Sultan Sulaiman Al-Baghdadi bin Ahmad Syah Jalaluddin Akbar bin Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan. (Selengkapnya lihat tulisan sebelumnya tentang Ilmu Silsilah )

Pangeran Jayakarta II menikahi putri Fatahillah dan juga menikahi puteri Maulana Hasanuddin Banten bin Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati; dikarunai putra bernama Sungerasa Jayawikarta alias Pangeran Jayakarta III (Pangeran Jayakarta III bin Pangeran Jayakarta II sampai saat ini belum diketahui dari Ibu yang puteri Fatahillah atau puteri Maulana Hasanuddin Banten) BAGI ANDA YANG MEMILIKI INFORMASI TENTANG INI HARAP MENGHUBUNGI KAMI

Pangeran Jayakarta III

Pangeran Jakarta III @ Sungerasa Jayawikarta berputra :

1. Ahmad Jaketra alias Pangeran Jayakarta IV
2. Ratu Ayu

Ratu Ayu menikah dengan Sultan Abul Ma’ali Ahmad Kenari bin Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir Kenari bin Maulana Muhammad Pangeran Ratu Ing Banten bin Maulanan Yusuf Panembahan Pakalangan Gede bin Maulana Hasanuddin Panembahan Surosowan bin Syarif Hidayatullah Susuhunan Gunung Jati.

Dikarunai putra (salah satunya) :

Sultan Ageng Tirtayasa Abul Fath Abdul Fattah (Sultan Banten 1631 – 1683)

Lahum Al Fatihah…

Makam Pangeran Jayakarta IV di Jatinegara Kaum, Jakarta Timur

Wallahu A’lam
Ahmad Irfan AW

Sumber Rujukan : R. Tubagus Nurfadhil Al Bin Hasan Al-Husaini (Mogi Azmatkhan)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.659 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: