BismiLlah wa-l HamduliLlah wa-s Shalatu wa-s Salamu ‘ala Rasulillah

Ego manusia atau ke-Aku-an atau Eksistensi –lawan dari Esensi–adalah sesuatu yang dapat menjadi penghalang bagi manusia untuk memperoleh kebenaran. Pada suatu saat saya melewati jalanan sempit di kota Surabaya. Saya berjalan ke arah barat, sesuai kesepakatan bersama, berarti saya berada pada lajur kiri. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan namun di lajur yang sama ada pengemudi lain yang datang sehingga saya berpapasan dengannya, begitu ia mendekati saya, apa yang terjadi? ternyata ia berkata sesuatu  yang saya sendiri tidak mendengar jelas apa kata-katanya namun saya dapat menyimpulkan dari perkataan tersebut: dia menyalahkan saya, padahal dia berada di lajur yang salah. Maka benar apa yang telah diajarkan Guru kepada saya, “Ego Dapat Menjadi Tirai Penghalang dari Kebenaran” bahkan Sang Guru pernah berkata: Riya’, Dengki, dan Sombong itu leluhur dari segala turunan penyakit hati lainnya, sedangkan ketiga leluhur tersebut “hanya” bayang-bayang dari ego dari manusia. Begitu dahsyatnya ego manusia yang dapat menjadi tirai penghalang dari kebenaran. Namun bukan berarti manusia tidak butuh ego, karena tanpa ego manusia tidak akan memiliki semangat untuk lebih maju dalam hal kebaikan dengan manusia lainnya. Kuncinya terletak pada hati. Hati yang bersih dapat menundukkan ego pada tempatnya.

Semoga Allah SWT memberkati hati kita.

Nderesmo, 03 Rabi’ al-Akhir 1435 (2014-005)

Iklan