Siang itu, Kamis, 23 Oktober 2014, saya berkunjung ke Malaysia bersama beberapa ulama dari Jawa Timur. Tujuan kami untuk menghadiri acara “Hubungan Mesra Antara Ulama Nusantara dan Ummah”. Saya bisa menghadiri acara ini karena ajakan guru mulia KH. DR. M. Dhiyauddin Kuswandi sehingga saya mendapat tiket dari panitia. Saya senang sekali bisa menghadiri acara ini karena bisa berkumpul bersama para ulama dan para ahbab dari berbagai daerah, ditambah lagi lokasi acaranya bertempat di negeri jiran yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Saya bersama KH. Sufyan Noor, Ustadzah Kausar, Ust. Imaduddin Said, KH. Mas Abdullah Muhajir, KH. M. Husnan, KH. M. Fadli Said, KH. Abdullah Adelan Yasin, dan Mas Zainal Arifin berangkat dari Bandara Juanda Terminal 2 dengan menggunakan Airbus A320 no. penerbangan QZ 322. Sementara Guru Mulia sudah lebih dulu berangkat bersama rombongan penerbangan pagi.

P1010403
Memutar haluan setelah take off di sekitar pantai timur Surabaya

Setelah menempuh perjalanan udara sejauh 1750 km dengan kecepatan rata-rata 756 km/h dan kecepatan maksimal 1049 km/h selama 2 jam 19 menit (berdasarkan data GPS saya), akhirnya kami tiba di Bandara KLIA2 (Kuala Lumpur In’tl Airport 2). Rombongan peserta dari Jawa Timur disambut oleh mudir Madrasah As-Syakirin beserta beberapa santri yang mendapat tugas khidmah istiqbal. Koper yang sedang saya bawa langsung diambil alih oleh Sofyan, sementara Salman mengawal kami ke lokasi parkir mobil penjemput.

Sequence Final Approach, Touch Down… (KLIA2) = hampir sampai di tujuan. 🙂
Peta Jelajah
Rute penerbangan direkam dengan menggunakan GPS eTrex 30

Di parkir mobil, sudah disediakan kendaraan penjemputan Toyota Commuter, sejenis New Hiace tapi lebih kecil. Saya langsung masuk ke dalam kabin dan duduk di paling belakang. Hafidz yang bertugas khidmah sopir mulai menjalankan mobilnya melewati KLIA Expressway, kemudian keluar di Exit 608 menuju rute jalan E6. Setelah 45 menit perjalanan akhirnya kami sampai di Madrasah At-Tazkiyah, USJ1, Subang Jaya, Selangor.

Menuju Selangor via KLIA Expressway (Tol Bandara)

Madrasah ini adalah satu-satunya madrasah cabang dari Darul Mushthofa Liddirasah Al-Islamiyah, Tarim, Hadramaut, Yaman asuhan Al-Allamah Al-Habib Umar bin  Muhammad bin  Salim bin Hafidz yang berada di luar negara Yaman. Rombongan tamu dari Indonesia hadir ke Madrasah ini, selain untuk silaturrahim juga, untuk menghadiri Haul Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz (Ayah Habib Umar bin Hafidz). Acara ini menambah rute rihlah saya selama di Malaysia.

Sesampainya di At-Tazkiyah, kami istirahat sejenak kemudian sholat. Rombongan ulama dari Indonesia mendapat kehormatan menjadi Imam Sholat Maghrib dan Isya yang di-imami oleh KH. Muhyiddin bin Abd. Qodir Al-Manafi. Selain itu, perwakilan rombongan ulama dari Indonesia diminta memberi mauidzoh.

Menikmati jamuan teh tarik dan hidangan makan malam.
Poster acara Majlis Haul Al Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz dari halaman resmi FB Madrasah At-Tazkiyah.
Berfoto bersama Ust. Sufyan Noor Al-Hafidz (Batu, Malang) dan Maulana Harun (Bandung)
ahmadirfanaw
Suasana acara Haul. Tampak saya sedang berdiri di dekat pengeras suara (sedang memfoto). Foto ini saya ambil dari halaman resmi Madrasah At-Tazkiyah
ahmadirfanaw
Selepas acara menyempatkan diri untuk tabarrukan foto bersama. Dari kanan ke kiri: saya, KH. Muhyiddin bin Abd. Qodir Al-Manafi (Pengasuh Pondok Pesantren Islam Internasional Terpadu Asy Syifaa Wal Mahmuudiyyah, Sumedang), Habib Al-Juanaid (Pengasuh Madrasah At-Tazkiyah, Selangor), Syekh Yusuf Bin Tholib, Umar.
ahmadirfanaw
Habib Mahdi Al-Hamid dari Yaman.
ahmadirfanaw
Habaib yang hadir ke acara Haul (Rombongan Habib Mahdi?)
IMG_20141024_001459
Sebelum pulang dari Madarasah At-Tazkiyah, saya berfoto dengan Sufyan dan Salman. 🙂

Setelah mengikuti rangkaian acara haul seperti pada umumnya yang terdiri dari pembacaan tahlil sholawat/maulid dhiya’ullami’, mau’idzoh dan doa penutup, tidak terasa waktu setempat (UTC+8) menunjukkan 23:30, acara yang dimulai selepas maghrib baru saja selesai. Kami pun bertolak menuju penginapan yang telah disediakan panitia. Masih dengan mobil yang sama, Hafidz mengantar rombongan mobilnya dengan kencang, sesekali kecepatan di GPS menunjukkan 120 km/h. Dalam waktu kurang dari 38 menit, kami berhasil menempuh jarak 52 km dan tiba di penginapan tepat pada pukul 00:07 Hari Jumat, 24 Oktober 2014. Kami menginap di MyHotel Bandar Seri Putra. Kamar saya no. 307.

ahmadirfanaw
Kebagian satu kamar satu orang.

Hari Jumat pagi, rombongan saya bersama rombongan tamu dari Indoneisa akan menuju negeri Kelantan untuk menghadiri acara inti. Setelah berkemas, saya langsung menuju lobi hotel. Ternyata, di sana ada Guru Mulia Kiai Dhiyauddin Kuswandi. Saya tidak tahu kalau beliau menginap di hotel yang sama. Di depan hotel, sudah siap “Bas Persiaran” (Bus Pariwisata) yang akan membawa kami melintasi jalur perbukitan membelah Semenanjung Malaya. Saya langsung masuk kabin bis bagian belakang. Setelah membaca doa, tidak lupa untuk menyalakan Garmin Etrex 30 GPS untuk merekam jejak selama perjalanan.

Foto bersama Guru. Seperti ayah sendiri.
ahmadirfanaw
Beberapa saat sebelum berangkat. Tampak di belakang konsumsi makan siang sedang dimasukkan ke bagasi oleh petugas khidmat

Tepat pukul 8 lewat 27 menit, bis dengan sasis MAN mulai bergerak, meninggalkan Bandar Seri Putra menuju Kota Bharu. Sepanjang perjalanan, kami melintasi daerah perbukitan batu kapur dan perkebunan kelapa sawit. Medan jalan cukup berliku dan bergelombang. Sampai di daerah Raub, Pahang, rombongan berhenti untuk melaksanakan sholat jumat di Masjid Batu 6 Penjom.

ahmadirfanaw
Suasana selepas sholat jumat di Masjid Batu 6 Penjom, Pahang Darul Makmur
IMG_20141024_134127
“Pesanan ikhlash” yang sangat mengena

Selepas sholat, perjalanan dilanjutkan dan berhenti untuk istirahat dan makan siang di rest area “Hentian Gua Musang”. Setelah menikmati nasi kotak dan menghirup udara pegunungan Gua Musang, perjalanan dilanjutkan kembali ditemani rintik hujan.

ahmadirfanaw
Hentian Gua Musang
ahmadirfanaw
Parkir dan Makan Siang di Gua Musang
ahmadirfanaw
Rute perjalanan menuju Kota Bharu, Kelantan.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 10 jam 36 menit dan menempuh jarak 485 km, Alhamdulillah akhirnya kami sampai di Masjid Al-Sultan Ismail Petra, Kubang Kerian, Kota Bharu, Kelantan Darul Naim pada pukul 19:03 waktu setempat. Rombongan tamu langsung menuju teras masjid lantai dua untuk beristirahat di dalam masjid. Berbagai makanan dan buah-buahan khas selama acara dihidangkan. Kurma, kismis, duku, kopi, teh, dan masakan yang dihidangkan pada acara memiliki rasa yang khas, perpaduan bumbu arab yang kuat dan bumbu lokal yang khas.

ahmadirfanaw
Spanduk acara
ahmadirfanaw
Undangan Acara
ahmadirfanaw
Tempat istirahat saya ( sebelah kanan rak Al-Qur’an) selama 2 hari 2 malam di Masjid Al-Sultan Isma’il Petra
ahmadirfanaw
Menikmati hidangan makan malam bersama rombongan dari Jakarta (Gamis coklat di tengah: Ustadz H. Makbulah, Condet, teman sebangku di bus).
ahmadirfanaw
Masakan Kelantan. Nikmat & Lezat.
ahmadirfanaw
Masakan Kelantan. Beras Merah
IMG-20150418-WA0016
Melayani Syekh Rohimuddin. Saya hanya terlihat pecinya di ujung sebekah kanan.

Congres Ulama and Ummah terdiri dilaksanakan selama dua hari yaitu pada hari Sabtu, 1 dan 2 Muharram 1436 H. Atau bertepatan dengan 25-26 Oktober 2014 bertempat di Masjid Al-Sultan Ismail Petra. Acara ini diselenggarakan oleh Pengurus Masjid Al-Sultan Ismail Petra, bekerjasama dengan Majlis Agama Islam dan Adat Istiadat Melayu Kelantan (MAIK). Diantata Ulama Nusantara yang hadir pada acara ini antara lain Ustadz Sufyaan Noor (Batu, Malang), Maulana Harun (Bandung), KH.  Zainal Abidin Bazul Asyhab (Tasikmalaya), KH. Dhiyauddin Kuswandi (Majlis Tasbih Nusantara), KH. Ali Badri Masyhuri (PP. Ar-Risalah,  Sukorejo, Pasuruan), Syaikh Rohimuddin Nawawi (Markaz Dar El Hasani),  KH Hanif Muslih (Al-Futuhiyah, Mranggen), KH Thobari Sadziliy (SARKUB, Banten), KH Said Abdurohim (PP MUS Sarang), Gus Zaim (Lasem), KH Masruhin (PB. LDNU Jakarta), KH Abdullah Munif Marzuki dan KH Ahsan Ghozali (PP Langitan Tuban), KH Faqih Imam (Ash Shofwah Al-Malikiyah), KH Masyhudi PP Annur Bululawang (LBM PBNU), KH Roziqin Jepara (PWNU Jawa Tengah), KH Badawi Jekulo Kudus, KH Mustofa Abdullah Nuh (Bogor), KH Khoirul Anam (PP Tunggulwulung Malang), Habib Ali bin Yahya Jakarta, dan beberapa kiai lainnya. Dalam acara ini, para kiai juga bersilaturahim dengan beberapa ulama Alam Melayu serta berkunjung ke beberapa pesantren/madrasah di Malaysia dan Thailand.

Tema sentral yang dibahas pada kongres ini mengarah kepada upaya persautan antar sesama ulama dan ummat dalam rangka mengembalikan nilai-nilai spiritual di Nusantara sebagai modal dalam mengawal kebangkitan Islam di akhir zaman di seluruh alam. Dari hasil pertemuan direncanakan kegiatan ini bisa terlaksana setiap tahun.

ahmadirfanaw
Sambutan Shohibus Samahan Dato Mufti Kelantan
IMG_20141026_113044
Syekh DR. M. Dhiyauddin Kuswandi sedang menyampaikan tema kebangkitan Islam Akhir Zaman

Ahad sore, 26 Oktober 2014, Kongres Ulama dan Ummah telah selesai dilaksanakan, acara selanjutnya silaturrahim kepada para babo/baba di Fathoni Darussalam (Pattani). Sebelum meninggalkan Kelantan, kami menyempatkan berkunjung ke Madrasah Diniah Bakriah yang terletak kira-kira 11 km dari Kota Bharu. Madrasah ini juga dikenal dengan nama Pondok Terusan Limbat, Pasir Tumboh.

ahmadirfanaw
Santri Pasir Tumboh menyambut kedatangan kami dengan bersalaman.
ahmadirfanaw
Foto sebelum melanjutkan perjalanan.

Sekitar 45 menit di Pondok Pasir Tumboh, kami melanjutkan perjalanan berikutnya menuju Thailand. Setelah menempuh jarak 45 km akhirnya kami tiba di pintu keluar Malaysia Rantau Panjang dan berbatasan langsung dengan Distrik Sungai Kolok/Sungai Golok (สุไหงโก-ลก) Provinsi Narathiwat (นราธิวาส), Thailand.

ahmadirfanaw
Antri Cop Paspor Imigrasi Sungai Golok

Dari Sungai Golok kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Narathiwat dengan jarak tempuh kurang lebih 70 km. berdasarkan perhitungan GPS. Tujuan pertama kami di Thailand adalah Markaz Jamaah Tabligh, Yala yang terletak sekitar 95 km di barat laut Kota Narathiwat. Suasana Thailand selatan masih sangat kental dengan nuansa Melayu karena sebenarnya daerah ini dulunya termasuk dari kekuasaan Sriwijaya[1]. Karena kelelahan, saya tertidur dalam ayunan suspensi MAN di atas medan jalan 4084, tak terasa ternyata sudah sampai di Yala pada sekitar jam 21:00 waktu setempat dalam keadaan gerimis. Saya langsung menuju ruang istirahat yang telah disediakan para ahbab. Setelah sholat dan makan malam, tibalah waktunya istirahat.

ahmadirfanaw
Tempat Istirahat Kami di Lantai 2

 

Senin pagi, 27  Oktober 2014: Sholat subuh berjamah dilanjutkan mendengarkan bayan yang disampaikan oleh Maulana Harun. Setelah selesai jama’ah subuh, saya bersama rombongan tamu berkeliling sambil menghirup udara pagi yang dingin dan berkabut untuk melihat situasi pemandangan pagi di sekitar Markaz.

Ruangan Dalam Masjid An-Nur, Yala, Thailand.

 

ahmadirfanaw
Teras Masjid An-Nur, Yala, Thailand.

 

IMG_20141027_071421
Asrama dan Madrasah Markaz Yala bernuansa Markaz Nizamuddin, India.
ahmadirfanaw
Berfoto bersama santri Yala
ahmadirfanaw
KH. Hanif Muslih PP. Futuhiyah, Mranggen, Demak dan KH. Zaim Ma’shum PP. Kauman Lasem, Gus Faiz Hanif.
ahmadirfanaw
Di Halaman Markaz

Setelah menikmati makan pagi dengan cara yang khas (duduk bersila dan saling berhadapan), rombongan melanjutkan perjalanan menuju jantung kota Pattani (Fathoni Darussalam). Bersambung

Iklan