Bismillāhi-r rahmāni-r rahīm

Buntet Pesantren adalah sebuah komplek pesantren yang terletak di Kecamatan Astanajapura, Cirebon. Pesantren ini didirikan oleh Mbah Muqoyyim pada tahun 1750 M. Sebelumnya Mbah Muqoyyim menjabat sebagai Mufti Keraton Kanoman, Cirebon. Namun setelah ada campur tangan Belanda di Keraton Cirebon, Mbah Muqoyyim memilih meninggalkan istana. Disaat beliau keluar dari lingkungan istana itulah beliau mendirikan sebuah pesantren yang menjadi cikal bakal Pesantren Buntet saat ini.

Mbah Muqoyyim bin Abdul Hadi memiliki menantu bernama Mbah Muta’ad bin Muridin. Mbah Muta’ad mempunyai dua istri. Istri pertama beliau bernama Ratu ‘Aisyah (Nyai Lor) dan istri kedua bernama Ratu Kidul (Pamijahan). Dari istri pertama lahirlah 1. Ny. Rohilah (Menikah dengan Kiai Kriyani Mufri Kraton), 2. Ny. Mu’minah (Menikah dengan Kiai Sa’id Gedongan), 3. Kiai Sholeh Zam-zam (Bendakerep), 4. Kiai Abd. Jamil (Buntet), 5. Kiai Raji’, dan 6. Kiai Abdul Karim. Dari istri kedua Mbah Muta’ad, lahirlah 8. Ny. Sa’udah, 9. Kiai Abdul Mun’im (Berputra diantaranya Wali Hasan, Banyuwangi), 10. Kiai Tarmidzi, 11. Nyai Karimah, dan 12. Nyai Muthi’. Dari nasab inilah banyak lahir ulama yang memperjuangkan Agama Islam dan menjadi penerus perjuangan para Wali, diantaranya adalah Kiai Abbas bin Abdul Jamil bin Muta’ad yang menjadi pemimpin pertempuran 10 November di Surabaya. Selengkapnya bisa dibaca di sini (klik). 

Riwayat nasab di atas saya peroleh ketika saya sowan ke ndalem KH. Rifqi Chowas di Darussalam Buntet Pesantren pada Desember tahun 2010. Pertama kali saya mengenal Buntet Pesantren dari media sosial FB. Tidak bisa dibayangkan, sekalipun  hanya melalui FB dan terlihat sepele, namun nyatanya sangat berarti, karena dari situ saya banyak mendapatkan hikmah.

Pada awal tahun 2010 (18 Februari) saya mencari nama Azmatkhan di FB untuk suatu keperluan. Saat itu saya baru kenal -secara tidak sengaja- dengan nama Azmatkhan dan sedang mencari tahu apa maksud dari nama tersebut. Saya menemukan beberapa nama Azmatkhan di FB, langsung saja saya menghubungi nama-nama tersebut. Diantara yang saya hubungi ternyata adalah salah satu keluarga besar Pesantren Buntet. Dari sinilah awal mula saya mengenal Buntet Pesantren beserta Keluarga Besarnya. Setelah terhubung di FB dan saling bersilaturrahim di dunia maya, sampai juga akhirnya mengenal secara nyata. Pertama kali saya berjumpa dengan keluarga Buntet pada 19 Mei 2010, tiga bulan setelah mengenal di dunia maya, waktu yang cukup singkat untuk sebuah ketidak sengajaan (sebenarnya bukan tidak sengaja, karena semua yang terjadi dalam kehidupan adalah dalam pengaturan-Nya). Saat itu, salah satu pesantren daerah di pesantren Buntet (asrama) Al-MUTTABA’ & AL-ANDALUCIA sedang mengadakan kegiatan rutin tahunan ziarah Walisongo. Ketika rombongan sedang berada di Makam Sunan Ampel, saya menyempatkan untuk sowan kepada beliau semua. Saat itulah pertama saya berkenalan di darat.

ahmadirfanaw
DI AMPEL: Dari Kiri: Ning Indah Wardah Hafse’, Ning Iffah Fuady, Bay Bashmah, saya, Gus Mido Syauqi Khan, Bay Sekar Aisyah Tajuddin, dan Nok Ratna Dewi Fathimah

Pada April 2011, saya hadir ke acara Haul Almarhumin Sesepuh Warga Pondok Buntet untuk menlanjutkan jalinan silaturrahim yang telah terbangun sebelumnya. Di sana saya berjumpa dengan keluarga Banten yang sebelumnya hanya kenal di FB. Selain hadir ke acara haul, saya juga bisa menambah silaturrahim.

ahmadirfanaw
DARI KIRI: Nok Devi Maysarah, Gus Yunus Al-Botoputih, Tubagus Sholeh, saya dan Tubagus Zain Al-Bakri Sempur

Pada Haul 2013 Alhamdulillah saya masih diberikan kesempatan untuk hadir lagi. Kali ini saya hadir bersama Ibu saya.

ahmadirfanaw
Sowan Ke Alm. KH. Luthfi Hakim Fuad Hasyim MA diantar Gus Naufal Fuad Hasyim (Sarung Hijau)
ahmadirfanaw
Dari Kiri: Gus Farique Nidzomuddin, Ning Hanum Khan, Ibu saya (Wardah Mahfoudh), Ning Iif NU, Gus Fikri Romo, dan saya.
ahmadirfanaw
Berfoto Bersama KH. Tb. Rifqi Chowas di Kediaman Beliau (Darussalam Buntet Pesantren).

Pada Desember 2013 saya dan beberapa saudara dari Jawa Timur menghadiri Peringatan Haul di Pesantren At-Tsaqofah Cirebon asuhan KH. Ahmad bin Hasan bin Abu Bakar Bendakerep. Di sela-sela acara saya menyempatkan mampir di Buntet Pesantren Cirebon. Saat itu saya bersama KH. Ma’shum Tirmidzi, Gus Ahmad Mudattsir. Beliau berdua dari Bondowoso.

ahmadirfanaw
Foto Bersama KH. Salman Elt Vareez (Di Tengah).
ahmadirfanaw
Foto Bersama KH. Ahmad Syauqi (Baju Coklat) dan Gus Ahmad Mudattsir (Bondowoso). (Desember 2013)
ahmadirfanaw
Bersama KH. M. Ma’shum Tirmidzi (Bondowoso) mampir di Buntet Pesantren saat Hadir Maulid Nabi SAW di PP. At-Tsaqofah Cirebon (Desember 2013.
ahmadirfanaw
Bersama KH. M. Ma’shum Tirmidzi (Bondowoso) mampir di Buntet Pesantren saat Hadir Maulid Nabi SAW di PP. At-Tsaqofah Cirebon (Desember 2013).

Saya senang bisa mengenal Buntet Pesantren beserta Keluarga Besarnya. Yang saya tahu dari keluarga Buntet, mereka sangat ramah, penuh keakraban. Persaudaraan ini adalah anugerah dari-Nya, dari yang awalnya tidak kenal, kemudian kenal hingga bersaudara, semua dalam pengaturan-Nya… Semoga dalam keridhoan Allah SWT. Amiin…

Iklan