Hari ini Selasa Pahing, 15 Sya’baan 1436 H. bertepatan dengan 2 Juni 2015 M. saya menghadiri peringatan Haul Akbar ke-430 Sunan Sendang Duwur di Paciran, Lamongan. Saya menghadiri majlis ini bersama Guru Mulia KH. DR. M. Dhiyauddin Qushwandi, KH. Mas Yusuf Muhajir, dan KH. Ma’shum Tirmidzi beserta ahbaab Majlis Tasbih Nusantara.  Rombongan berangkat dari ndalem Pengasuh Majlis Tasbih Nusantara, Griyo Taman Asri FA-03, Taman, Sidoarjo pukul 9 pagi. Awalnya kami mau lewat manyar, namun karena antri buka tutup jalur di jembatan setelah turun tol, kami memutuskan putar balik menuju Lamongan kemudian belok kanan di pertigaan sebelum Pucuk. Setelah sekitar 20 km menyusuri jalan pedalaman tembusan Sunan Drajat, kami sampai di pantura sebelah timur WBL. Kemudian belok kiri melewati WBL dan belok kanan naik bukit di akses menuju desa Sendangduwur. Tepat dzuhur rombongan tiba di lokasi haul. Kami mendapatkan jamuan makan siang di kediaman pemangku Sendangduwur yaitu Kiai…………. (masih lupa). Di sana sudah ada Pengasuh Pondok Pesantren Assetresiyah Darul Ubudiyah Si Mbah Yai Sarimbit. Beliau dari Pati. Kehadirannya beliau di lokasi acara tidak lain hanya karena ingin berkumpul bersama dengan para ulama yang menghadiri majlis haul
.

Setelah selesai makan selanjutnya kami berziarah ke Kanjeng Sunan Sendang yang dipimpin oleh Kiai Ma’shum Tirmidzi. Lokasi makam berada di tepi tebing perbukitan. Saya banyak menjumpai batu nisan khas Giri di sini.

Di dalam qubbah Sunan Sendang saya menyempatkan untuk berfoto bersama Mbah Yai Sarimbit dan KH. Mas Yusuf Muhajir. Yang paling kanan sendiri mas Wahid, salah seorang ahbaab Majlis Tasbih Nusantara Markaz Bawean.

Setelah selesai ziarah, kami pun langsung menuju Masjid Sunan Sendang untuk mengikuti rangkaian kegiatan haul, sementara Mbah Yai Sarimbit berpamitan pulang karena harus menghadiri acara yang lain.

image

Saya terkagum kagum dengan akhlaq beliau dan akhlaq para ulama Sufi. Seringkali saya jumpai mereka rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk suhbah (duduk bersama; bersilaturrahim). Maa Syaa Allaah… Mungkin karena luapan Cinta kepada Allâh dan kasih sayang kepada sesama atas dasar cinta kepada Allâh itulah yang menjadi pendorong dalam setiap aktivitasnya, sehingga tidak terasa lelah.

Acara berjalan seperti haul pada umumnya. Ceramah agama disampaikan oleh KH. Luthfi Mutawakkil Alallah dari Surabaya. Beliau menyampaikan tema lingkungan. Selesai acara ditutup dengan pembacaan doa oleh KH. Mas Yusuf Muhajir dan KH. DR. M. Dhiyauddin Qushwandi.

Iklan