Ahmad Irfan AW

Pelayaran Tak Bertepi Samudera Ketuhanan

Rumus Kebahagiaan Sejati

Rumus Kebahagiaan Sejati
Bagi Para Pecinta Ilahi Rabbiy

Manusia akan damai bersama yang dicintai
Sejatinya diri terletak pada ruhani
Ruhani hanya mencintai Rabb-nya
Maka manusia hanya akan damai apabila ia dekat dengan Rabb-nya

 

Gerbang dari Sebuah Perjalanan Panjang

Perjalanan panjang penuh liku dan ujian
dilalui dengan sabar dan lapang
hilang, lenyap, dalam semalam
di depan sebuah gerbang

Kini telah sampai pada sebuah jawaban
yang dapat menjawab semua kesedihan
menerima semua ujian dan rintangan
dalam menjalani semua kenyataan
Maka Maha Suci Engkau dan segala puji sepanjang siang dan malam

Al-Faqīr ilā Rabb-ul Jalīl Ibn Waqti Ahmad ‘Abdul Adzīm Khālid
Nderesmo, Surabaya - Ahad, 3 Rabi’ al-Awwal 1435 H (05/01/2014 )

Embun Pagi di Kelopak Mawar

Oleh: Murabbi-r Rūh Abuya DR. KH. M. Dhiyā’uddīn Kuswandhi (HafidzahuLlāh)
Sabtu, 02 Rabi’ul Awwal 1435 H/04 Januari 2014 | 06:30 GMT+7

Bagai embun jatuh di kelopak mawar di pagi hari
Begitu bening, sejuk, segar dan damai

Demikianlah jika cinta sejati menyentuh hati
Jiwa terasa sejuk, damai dan indah tiada terperi.

O embun yg suci kaulah sari pati air langit dan bumi
Yang selalu hadir hanya di keheningan pagi
Bukan disaat dinginnya malam atau teriknya siang hari.

Semua itu adalah tamsil bagi mereka yang bijak bestari
Bahwa cinta sejati sebagai sari pati kehidupan yang fitri
tidak kan datang kecuali dihati yg bersih dan suci
yg telah terbebas dari dualisme suka dan benci marah dan birahi.

O terberkatilah kalian semua yg mengerti
rahasia dari kebahagiaan yang hakiki dan abadi ini.

Damai
Damai
Damai.

Ego Dapat Menjadi Tirai Penghalang dari Kebenaran

BismiLlah wa-l HamduliLlah wa-s Shalatu wa-s Salamu ‘ala Rasulillah

Ego manusia atau ke-Aku-an atau Eksistensi –lawan dari Esensi–adalah sesuatu yang dapat menjadi penghalang bagi manusia untuk memperoleh kebenaran. Pada suatu saat saya melewati jalanan sempit di kota Surabaya. Saya berjalan ke arah barat, sesuai kesepakatan bersama, berarti saya berada pada lajur kiri. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan namun di lajur yang sama ada pengemudi lain yang datang sehingga saya berpapasan dengannya, begitu ia mendekati saya, apa yang terjadi? ternyata ia berkata sesuatu  yang saya sendiri tidak mendengar jelas apa kata-katanya namun saya dapat menyimpulkan dari perkataan tersebut: dia menyalahkan saya, padahal dia berada di lajur yang salah. Maka benar apa yang telah diajarkan Guru kepada saya, “Ego Dapat Menjadi Tirai Penghalang dari Kebenaran” bahkan Sang Guru pernah berkata: Riya’, Dengki, dan Sombong itu leluhur dari segala turunan penyakit hati lainnya, sedangkan ketiga leluhur tersebut “hanya” bayang-bayang dari ego dari manusia. Begitu dahsyatnya ego manusia yang dapat menjadi tirai penghalang dari kebenaran. Namun bukan berarti manusia tidak butuh ego, karena tanpa ego manusia tidak akan memiliki semangat untuk lebih maju dalam hal kebaikan dengan manusia lainnya. Kuncinya terletak pada hati. Hati yang bersih dapat menundukkan ego pada tempatnya.

Semoga Allah SWT memberkati hati kita.

Nderesmo, 03 Rabi’ al-Akhir 1435 (2014-005)

Ulama Pewaris Para Nabi (a.s)

Gemerlap dunia yang penuh kesementaraan ini sudah terlalu sering membuat diri ini silau melihat kebenaran (Al-Haq).

Kebahagiaan dunia yang penuh keterbatasan ini bahkan seringkali hanya menjadi tipuan yang nyata di kemudian hari.

Hanya dengan kembali mendekatkan diri kepada “Sang Pemilik” diri ini akan bahagia…

Kebahagiaan yang tanpa syarat dan tanpa batas, kebahagiaan yang akan hadir di setiap tempat dan keadaan.

Saatnya diri ini mendekati hamba-hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya, yang menjadi pewaris dari para Nabi-Nabi-Nya.

InsyaAllah dengan mendekati beliau (Suhbah), apalagi bisa melayani beliau (Khidmah), apalagi sampai bisa mendapat didikan beliau (Tarbiyah) insyaAllah Rahmat Allah akan tercurahkan. Aamiin…

Allah telah mencurahkan Rahmat-Nya kepada Nabi-Nya; Nabi Muhammad (saw). Dan beliaulah para pewaris Nabi-Nabi sebagaimana sabda Nabi sendiri (saw): “Al-Ulamaa’ Waratsatu-l Anbiyaa’” (Al-Hadits).

100_5849
Ditengah: As-Syaikh KH Ahmad Hasan bin Abu Bakar bin Sholeh (HafidzahuLlâh)
Pengasuh Pesantren Bendakerap, Cirebon, Indonesia.

Dikanannya: (Surban Biru): Pembimbing ruh kami, Abuya KH. DR. M. Dhiyauddin Qushwandhi (HafidzahuLlâh)Pengasuh Majlis Tasbih Nusantara, Sepanjang, Sidoarjo, Indonesia.

Dikirinya: KH. M. Mas’udi Busyiri LC. MA. (HafidzahuLlâh)
Pengasuh Pesantren An-Nur I Putri Bululawang, Malang, Indonesia.

10032012

 

Sebelah kanan dari tengah: Pembimbing ruh kami, Abuya KH. DR. M. Dhiyauddin Qushwandhi (HafidzahuLlâh)
Pengasuh Majlis Tasbih Nusantara, Sepanjang, Sidoarjo, Indonesia.

Sebelah kiri dari tengah: Pembimbing hati kami KH. DR. Rohimuddin Nawawi Al-Jahari (HafidzahuLlâh)
Pengasuh Pengasuh Markaz Dar al-Hasani Cairo dan Penasehat Markaz Al Jilani Center Asia Tenggara.

Berdiri: KH. M. Ali Zainal Arifin (HafidzahuLlâh)
Pengasuh Pesantren Alam Akbar Al-Fatah, Rungkut, Surabaya.

100_5851

Ditengah:  KH. Syarif Hidayatullah (HafidzahuLlâh)
Kalimantan.

Dikanannya: (Surban Hijau): Ajengan KH. Ahmad bin Ahmad Hasan
Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqofah As-Salafiyah, Kramat Megu, Cirebon.

Semoga Allah panjangkan usianya untuk tetap dapat membimbing kami umat Nabi dijalan Allah. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin…

Ahad, 25 Shafar 1435 Hijriyah
Sabtu, 28 Desember 2013 Miladiyah
Pesantren Ats-Tsaqofah As-Salafiyah, Kramat Megu, Cirebon, Indonesia.

JazaLlâhu ‘anna Sayyidana wa Nabiyyana Muhammadan (saw) Bi Mâ Huwa Ahluhu. Wa ShallAllâhu ‘alâ Sayyidina Muhammadin wa ‘alâ Âlihi wa Shahbihi wa Sallam. Wa-l HamduliLlâhi Rabbi-l ‘Âlamiin…

 

 

Selamat Tahun Baru Islam 1435 Hijriyah

BismilLâh

InsyâAllâh nanti malam kita sudah mulai masuk tahun baru Islam tahun ke-1435 dihitung dari Hijrahnya Nabi Muhammad RasuluLlâh SAW dari Makkah ke Madinah.

Sebagai seorang Muslim, yogya kita gunakan kalender Islam karena dalam bulan-bulan Islam terdapat keutamaan (Allah sendiri yg mengutamakannya), dan sejarah yang tidak dapat dilupakan dan tidak akan ditemui di kalender Gregorius (Januari, Februari, dst.).

Sebgai seorang yang bersosial, kita juga menggunakan kalender Masehi atau dalam istilah Islam dikenal sbgai kalender Miladiyah karena mau tidak mau, saat ini kalender ini yang digunakan oleh dunia. Entah bagaimna sejarahnya, padahal kalau bicara soal usia kalender, kalender Yahudi dan Hindu lebih tua daripada kalender Masehi.

Namun harus diakui bahwa kalender bulan (lunar calendar) yang digunakan oleh Islam adalah kalender yang sempurna.

Buktinya: Setiap bulan baru dan setiap bulan purnama (pertengahan bulan) –berarti bumi, bulan, dan matahari berada pada garis yang lurus– saat itu pasang air laut akan mengalami tinggi tertinggi dibanding waktu-waktu yang lain.

Begitu juga pada saat bulan purnama, banyak hewan yang melakukan perkawinan.

Berarti kalender bulan juga digunakan oleh alam semseta.

Jam tangan yang mahal biasanya dilengkapi Tide Calendar (Kalender Pasang Surut) itu karena waktu yang digunakan di jam tersebut tidak sejalan dengan waktu yang digunakan oleh laut. Coba kalender jam tangannya ikut hijriyah, maka tidak perlu lagi Tide Calendar karena Tide-nya juga ngikut bulan.

Islam sempurna sebagaimana ENGKAU telah menyempurnakan

Manakib Sufi: Sayyid Ali bin Shahab-ud-Din Hamadani q.s.

Bismillāhirrahmānirrahīm

Mir Sayyid Ali bin Shahab-ud-Din Hamadani (میر سید علی شهاب‌الدین همدانی‎) (1384-1314) adalah seorang Sufi dari Persia pengikut tarekat Kubrawiyya, seorang penyair dan ulama terkemuka. Beliau dilahirkan pada hari Ahad 12 Rajab tahun 714 H. di Hamadani, sebuah di daerah pegunungan sekitar 360 km arah barat dayaMirSyedAliHamdani dari kota Tehran, ibukota Iran dan wafat pada tahun 786 H. pada usia 63 tahun dan dikebumikan di Khalatan (salah satu Provinsi di Tajikistan, semoga saya dirizkikan berziarah ke sini)

Ia seorang penyebar Islam di Kashmir yang sangat terkenal. Latar belakang keluarganya dari kalangan orang yang berpendidikan. Ia cerdas dan cekatan. Belajar Al-Qur’an kepada pamannya dari pihak ibu, Hazrat Ala Uddin dan dari beliau juga, ia belajar banyak pelajaran yang lain. Dari segi silsilah, nasabnya bersambung kepada Imam Ali Zainal Abidin ibn Husain As-Sibti.

Ia memiliki banyak karangan, diantara karangan yang saya punya adalah Al-Awrad Al-Fathiah, sebuah kitab kecil berisi do’a “Pembuka” yang didalamnya terdapat do’a Riqob (doa hamba sahaya yang hendak menebus kemerdekaannya). Saya memperoleh ijazah berikut salinan kitab ini dari Guru Mulia As-Syaikh KH DR. M. Dhiyauddin Quswandhi Hfz.

Adapun karya-karya beliau keseluruhan adalah sbb:

Risalah Nooriyah
Risalah Maktubaat
Dur Mu’rifati Surat wa Sirat-i-Insaan
Dur Haqaa’iki Tawbah
Hallil Nususi allal Fusus
Sharhi Qasidah Khamriyah Faridhiyah (sayarah dari kitab qasidah ‘Umar ibn ul-Fariz w. 786 H.)
Risalatul Istalahaat
‘ilmul Qiyafah atau Risalah-i qiyafah (salinan kitabnya saat ini berada di United States National Library of Medicine)
Dah Qa’idah
Kitabul Mawdah Fil Qurba (kitab tentang silaturrahim)
Kitabus Sab’ina Fi Fadha’il Amiril Mu’minin
Rawdhtul Firdaws
Firdawsul Akhyaar
Manazilu Insaaliqin
Awraad-ul-Fatehah
Chehl Asraar (Benteng Rahasia)
Zakhirat-ul-Muluk

Barangkali ada yang memiliki informasi yang lebih banyak seputar karangan beliau kiranya dapat berbagi dengan saya.

Semoga dengan menulis dan membaca manaqib beliau akan mendatangkan manfaat kepada kita.

Al-Faatihah ila Arwahi Jami’i Sadatina As-Shoufiyyah An-Llaaha Yuqoddisu Arwahahum fi-l Jannah wa Yu’li Darajaatihim fii ha wa Yu’iedu ‘Alayna min Barakaatihim wa Asraarihim wa Anwaarihim wa’ Uluumihim fi-d Dini wa-d Dunya wa-l Aakhirah. Al-Faatihah

Disarikan oleh Al-Faqir Al-Haqir Al-Mudznib Ahmad Irfan ibn Abdul Adzim Khalid Al-Adami At-Thurabi dari Wikipedia.org.

Nderesmo Ndalem, Wonocolo, Surabaya.
12 Dzulhijjah 1434 (17.10.2013)

Bahagia adalah Tujuan Terakhir dalam Hidup

BismiLlaah

Disarikan dari kajian Majlis Tasbih oleh: Guru Mulia KH DR M. Dhiyauddin Quswandhi (Emdeka Saka Guru) HafidzahulLâh tadi siang (Idul Qurb 1434 H.) di Pondok Pamulangan Luhur:

Sahabat

Semua manusia menginginkan kebahagiaan namun mengapa kebahagian tersebut justru hanya ada di depan kita? dan tak pernah bisa dialami dalam setiap keadaan? bahkan hanya menjadi harapan belaka?

Karena kita MENGGANTUNGKAN KEBAHAGIAAN pada TERCAPAINYA KEINGINAN dan kita jadikan kebahagiaan itu sebagai TUJUAN dan HARAPAN.

Padahal, kita tahu keinginan manusia tak terbatas sedangkan kemampuan manusia SANGAT TERBATAS. Maka jelas akan banyak harapan yang tak tercapai dan di situlah sumber penderitaan.

”Saya akan bahagia jika saya ……………………………….”

Kebahagiaan yang seperti ini adalah kebahagiaan inderawi yang tak lain hanyalah produk dari pikiran yang TAK DAPAT kita rasakan namun hanya ada dalam HAYALAN.

Lalu seperti apa KEBAHAGIAAN MAKNAWI yang SEJATI?

Kebahagiaan yang sejati adalah kebahagiaan yang dialami/dirasakan oleh jiwa/ruh manusia. Kapan dan di mana? Di sini dan kini dalam pusat kesadaran.

Saudaraku, bilamana jiwa manusia telah merasakan kebahagiaan yang hakiki, maka semua menjadi Indah.

Lalu bagaimana mencapainya?

Saudarku, ruh itu akan mengalami kebahagiaan hanya apabila ia berdekatan dengan Allah. Ya, karena ia adalah pencinta (Al-Muhib) yang tak ingin berpisah dengan YANG DICINTAINYA (Al-MAHBUB). La Mahbuban Illa Allaah

Lalau apa yang memisahkan?

Selisih yang memisahkan. Ya, selisih antara kehendak diri dengan kehendak Allah yang memisahkan. Maka hiduplah dengan keridha-an niscaya Allah pun Ridha.

Siapa yang menciptakan selisih? Ego-lah yang menciptakan selisih. Ego-lah yang menciptakan kehendak diri. Ego-lah yang memisahkan yang satu dengan yang lainnya. Ego-lah yang memisahkan jiwa dan Tuhanya.

Hiduplah dengan KASIH maka kebahagiaan akan selalu datang tanpa syarat dan batas baik dalam menempuh sebab maupun akibat, proses ataupun hasil, laku dan tuju.

Ya, ia akan selalu hadir dalam hidup ini, kini dan seterusnya, dalam segala waktu dan keadaan selama-lamanya.

Semoga kita semua dapat merasakan kebahagiaan-Nya yang sejati abadan abadaa. Aamiin birohmatiKa Yaa Arhama-r Rahimin.

wa ShallAllahu ‘ala Sayyidina Muhammadin wa Aalihi wa Shahbihi wa Baarka wa Sallam. WalhamduliLlahi Rabbil ‘Aalamiin.

Semoga bermanfaat.

Kumpulan Hikmah

“Ilmu itu cahaya, Ilmu bukan hanya sekumpulan informasi yang disimpan dalam ingatan” 

Imu berada di hati.  Ilmu bukan sebatas kumpulan informasi seperti yang tersimpan rapi di hardisk komputer tetapi Ilmu dapat memberi petunjuk bagi orang yang memilikinya.

“Disebut PENGETAHUAN yang SEJATI apabila ia dapat mengenalkan SANG MAHA MENGETAHUI”

Boleh jadi mereka mengetahui bermacam ilmu dengan berbagai bidang namun belum tentu benar-benar mengetahui/mengenal Sang Pemiik Ilmu itu sendiri Yang Maha Mengetahui.

“Disebut ciptaan karena ada Pencipta. Begitu juga disebut dunia yang fana karena ada Akhirat yang kekal”

Keberadaan dunia yang bersifat sementara ini menjadi isyarat bahwa ada dunia yang bersifat kekal abadi karena setiap ada yang relatif terdapat absolut.

Di Taman Rahasia Istana Sang Sultan

Oleh: Murabbi-r Rūh Abuya DR. KH. M. Dhiyā’uddīn Kuswandhi (HafidzahuLlāh)
Dzulqa’dah 1434 H / 09 September 2013 | 15:13 GMT+7

Bagai…
Sekuntum Mawar asuhan rembulan tumbuh semalam seketika mekar laksana awan di taman rahasia istana sang sultan

Suci
indah
mewangi dan
menawan

Terdengar seruling Rumi
mengalun syahdu di hati
iringi tembang suci tentang cinta dan kerinduan abadi

O Sang pujangga istana biru

Sengajakah kau mewakili rasaku yang dirasuk sepi dan rindu pada keindahan tanpa batas
di balik debu

Bagai burung bulbul Fariduddin at-Tar yang abadi
aku berkicau tanpa henti
tuk ungkapkan rahasia di hati
luahkan rasa sepi tanpa tepi
demi dan semoga jiwa terobati.

Ah dikau
permai sukma yang azali.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.659 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: