Ahmad Irfan AW

Pelayaran Tak Bertepi Samudera Ketuhanan

Haul Akbar ke-430 R. Noer Rochmat Sunan Sendang

Hari ini Selasa Pahing, 15 Sya’baan 1436 H. bertepatan dengan 2 Juni 2015 M. saya menghadiri peringatan Haul Akbar ke-430 Sunan Sendang Duwur di Paciran, Lamongan. Saya menghadiri majlis ini bersama Guru Mulia KH. DR. M. Dhiyauddin Qushwandi, KH. Mas Yusuf Muhajir, dan KH. Ma’shum Tirmidzi beserta ahbaab Majlis Tasbih Nusantara.  Rombongan berangkat dari ndalem Pengasuh Majlis Tasbih Nusantara, Griyo Taman Asri FA-03, Taman, Sidoarjo pukul 9 pagi. Awalnya kami mau lewat manyar, namun karena antri buka tutup jalur di jembatan setelah turun tol, kami memutuskan putar balik menuju Lamongan kemudian belok kanan di pertigaan sebelum Pucuk. Setelah sekitar 20 km menyusuri jalan pedalaman tembusan Sunan Drajat, kami sampai di pantura sebelah timur WBL. Kemudian belok kiri melewati WBL dan belok kanan naik bukit di akses menuju desa Sendangduwur. Tepat dzuhur rombongan tiba di lokasi haul. Kami mendapatkan jamuan makan siang di kediaman pemangku Sendangduwur yaitu Kiai…………. (masih lupa). Di sana sudah ada Pengasuh Pondok Pesantren Assetresiyah Darul Ubudiyah Si Mbah Yai Sarimbit. Beliau dari Pati. Kehadirannya beliau di lokasi acara tidak lain hanya karena ingin berkumpul bersama dengan para ulama yang menghadiri majlis haul
.

Setelah selesai makan selanjutnya kami berziarah ke Kanjeng Sunan Sendang yang dipimpin oleh Kiai Ma’shum Tirmidzi. Lokasi makam berada di tepi tebing perbukitan. Saya banyak menjumpai batu nisan khas Giri di sini.

Di dalam qubbah Sunan Sendang saya menyempatkan untuk berfoto bersama Mbah Yai Sarimbit dan KH. Mas Yusuf Muhajir. Yang paling kanan sendiri mas Wahid, salah seorang ahbaab Majlis Tasbih Nusantara Markaz Bawean.

Setelah selesai ziarah, kami pun langsung menuju Masjid Sunan Sendang untuk mengikuti rangkaian kegiatan haul, sementara Mbah Yai Sarimbit berpamitan pulang karena harus menghadiri acara yang lain.

image

Saya terkagum kagum dengan akhlaq beliau dan akhlaq para ulama Sufi. Seringkali saya jumpai mereka rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk suhbah (duduk bersama; bersilaturrahim). Maa Syaa Allaah… Mungkin karena luapan Cinta kepada Allâh dan kasih sayang kepada sesama atas dasar cinta kepada Allâh itulah yang menjadi pendorong dalam setiap aktivitasnya, sehingga tidak terasa lelah.

Acara berjalan seperti haul pada umumnya. Ceramah agama disampaikan oleh KH. Luthfi Mutawakkil Alallah dari Surabaya. Beliau menyampaikan tema lingkungan. Selesai acara ditutup dengan pembacaan doa oleh KH. Mas Yusuf Muhajir dan KH. DR. M. Dhiyauddin Qushwandi.

Dari FB hingga Dunia Nyata: Berkenalan dengan Keluarga Buntet Pesantren

Bismillāhi-r rahmāni-r rahīm

Buntet Pesantren adalah sebuah komplek pesantren yang terletak di Kecamatan Astanajapura, Cirebon. Pesantren ini didirikan oleh Mbah Muqoyyim pada tahun 1750 M. Sebelumnya Mbah Muqoyyim menjabat sebagai Mufti Keraton Kanoman, Cirebon. Namun setelah ada campur tangan Belanda di Keraton Cirebon, Mbah Muqoyyim memilih meninggalkan istana. Disaat beliau keluar dari lingkungan istana itulah beliau mendirikan sebuah pesantren yang menjadi cikal bakal Pesantren Buntet saat ini.

Mbah Muqoyyim bin Abdul Hadi memiliki menantu bernama Mbah Muta’ad bin Muridin. Mbah Muta’ad mempunyai dua istri. Istri pertama beliau bernama Ratu ‘Aisyah (Nyai Lor) dan istri kedua bernama Ratu Kidul (Pamijahan). Dari istri pertama lahirlah 1. Ny. Rohilah (Menikah dengan Kiai Kriyani Mufri Kraton), 2. Ny. Mu’minah (Menikah dengan Kiai Sa’id Gedongan), 3. Kiai Sholeh Zam-zam (Bendakerep), 4. Kiai Abd. Jamil (Buntet), 5. Kiai Raji’, dan 6. Kiai Abdul Karim. Dari istri kedua Mbah Muta’ad, lahirlah 8. Ny. Sa’udah, 9. Kiai Abdul Mun’im (Berputra diantaranya Wali Hasan, Banyuwangi), 10. Kiai Tarmidzi, 11. Nyai Karimah, dan 12. Nyai Muthi’. Dari nasab inilah banyak lahir ulama yang memperjuangkan Agama Islam dan menjadi penerus perjuangan para Wali, diantaranya adalah Kiai Abbas bin Abdul Jamil bin Muta’ad yang menjadi pemimpin pertempuran 10 November di Surabaya. Selengkapnya bisa dibaca di sini (klik). 

Riwayat nasab di atas saya peroleh ketika saya sowan ke ndalem KH. Rifqi Chowas di Darussalam Buntet Pesantren pada Desember tahun 2010. Pertama kali saya mengenal Buntet Pesantren dari media sosial FB. Tidak bisa dibayangkan, sekalipun  hanya melalui FB dan terlihat sepele, namun nyatanya sangat berarti, karena dari situ saya banyak mendapatkan hikmah.

Pada awal tahun 2010 (18 Februari) saya mencari nama Azmatkhan di FB untuk suatu keperluan. Saat itu saya baru kenal -secara tidak sengaja- dengan nama Azmatkhan dan sedang mencari tahu apa maksud dari nama tersebut. Saya menemukan beberapa nama Azmatkhan di FB, langsung saja saya menghubungi nama-nama tersebut. Diantara yang saya hubungi ternyata adalah salah satu keluarga besar Pesantren Buntet. Dari sinilah awal mula saya mengenal Buntet Pesantren beserta Keluarga Besarnya. Setelah terhubung di FB dan saling bersilaturrahim di dunia maya, sampai juga akhirnya mengenal secara nyata. Pertama kali saya berjumpa dengan keluarga Buntet pada 19 Mei 2010, tiga bulan setelah mengenal di dunia maya, waktu yang cukup singkat untuk sebuah ketidak sengajaan (sebenarnya bukan tidak sengaja, karena semua yang terjadi dalam kehidupan adalah dalam pengaturan-Nya). Saat itu, salah satu pesantren daerah di pesantren Buntet (asrama) Al-MUTTABA’ & AL-ANDALUCIA sedang mengadakan kegiatan rutin tahunan ziarah Walisongo. Ketika rombongan sedang berada di Makam Sunan Ampel, saya menyempatkan untuk sowan kepada beliau semua. Saat itulah pertama saya berkenalan di darat.

ahmadirfanaw

DI AMPEL: Dari Kiri: Ning Indah Wardah Hafse’, Ning Iffah Fuady, Bay Bashmah, saya, Gus Mido Syauqi Khan, Bay Sekar Aisyah Tajuddin, dan Nok Ratna Dewi Fathimah

Pada April 2011, saya hadir ke acara Haul Almarhumin Sesepuh Warga Pondok Buntet untuk menlanjutkan jalinan silaturrahim yang telah terbangun sebelumnya. Di sana saya berjumpa dengan keluarga Banten yang sebelumnya hanya kenal di FB. Selain hadir ke acara haul, saya juga bisa menambah silaturrahim.

ahmadirfanaw

DARI KIRI: Nok Devi Maysarah, Gus Yunus Al-Botoputih, Tubagus Sholeh, saya dan Tubagus Zain Al-Bakri Sempur

Pada Haul 2013 Alhamdulillah saya masih diberikan kesempatan untuk hadir lagi. Kali ini saya hadir bersama Ibu saya.

ahmadirfanaw

Sowan Ke Alm. KH. Luthfi Hakim Fuad Hasyim MA diantar Gus Naufal Fuad Hasyim (Sarung Hijau)

ahmadirfanaw

Dari Kiri: Gus Farique Nidzomuddin, Ning Hanum Khan, Ibu saya (Wardah Mahfoudh), Ning Iif NU, Gus Fikri Romo, dan saya.

ahmadirfanaw

Berfoto Bersama KH. Tb. Rifqi Chowas di Kediaman Beliau (Darussalam Buntet Pesantren).

Pada Desember 2013 saya dan beberapa saudara dari Jawa Timur menghadiri Peringatan Haul di Pesantren At-Tsaqofah Cirebon asuhan KH. Ahmad bin Hasan bin Abu Bakar Bendakerep. Di sela-sela acara saya menyempatkan mampir di Buntet Pesantren Cirebon. Saat itu saya bersama KH. Ma’shum Tirmidzi, Gus Ahmad Mudattsir. Beliau berdua dari Bondowoso.

ahmadirfanaw

Foto Bersama KH. Salman Elt Vareez (Di Tengah).

ahmadirfanaw

Foto Bersama KH. Ahmad Syauqi (Baju Coklat) dan Gus Ahmad Mudattsir (Bondowoso). (Desember 2013)

ahmadirfanaw

Bersama KH. M. Ma’shum Tirmidzi (Bondowoso) mampir di Buntet Pesantren saat Hadir Maulid Nabi SAW di PP. At-Tsaqofah Cirebon (Desember 2013.

ahmadirfanaw

Bersama KH. M. Ma’shum Tirmidzi (Bondowoso) mampir di Buntet Pesantren saat Hadir Maulid Nabi SAW di PP. At-Tsaqofah Cirebon (Desember 2013).

Saya senang bisa mengenal Buntet Pesantren beserta Keluarga Besarnya. Yang saya tahu dari keluarga Buntet, mereka sangat ramah, penuh keakraban. Persaudaraan ini adalah anugerah dari-Nya, dari yang awalnya tidak kenal, kemudian kenal hingga bersaudara, semua dalam pengaturan-Nya… Semoga dalam keridhoan Allah SWT. Amiin…

Rute Jalan Nasional Indonesia

Selain Plat M, Madura juga memiliki simbol lain, yaitu simbol Rute Jalan Nasional
yang mana Madura kebagian nomer urut cantik nomer 21 :) Rute 21 memiliki ruas jalan yang menghubungkan daerah-daerah di bawah ini:

Nasional21

Sumber: Wikipedia.org Edited by: Ahmad Irfan AW

Kamal – Bangkalan (Jl.Sukarno Hatta – Jl. Halim Perdanakusuma) – Torjun – Sampang (Jl. Jagung Suprapto – Jl. Wahid Hasyim – Jl. Sudirman – Jl.H.Agus Salim – Jl. P.Diponegoro – Jl.Trunojoyo – Jl.KH Hasyim Ashari) – Pamekasan (Jl.Trunojoyo – Jl.Joko Tole) – Sumenep (Jl.Raya Pamekasan – Jl.Trunojoyo – Jl. Jend.Sudirman – Jl.A.Yani – Jl. Urip Sumoharjo – Jl.Slamet Riyadi – Jl.Yos Sudarso) – Kalianget.

Kita berterimakasih kepada para pembuat jalan, semoga amal kebaikannya diterima disisi-Nya. Kakek saya termasuk orang yang senang membuat dan/atau merapikan jalan (agar mudah dilewati). Almarhum ayah saya sering mengajarkan kepada saya untuk  menyingkirkan rintangan di jalan. Ayah saya memberhentikan kendaraannya apabila mendapati rintangan di jalan, lalu menyingkirkannya. Saya berusaha meneladani beliau karena di dalam hadits juga di sebutkan bahwa menyingkirkan rintangan di jalan termasuk dari cabangnya iman. Saya sendiri suka melewati jalan yang belum pernah saya lalui, karena dengannya saya akan mendapatkan pengalaman baru dan melihat Ciptaan-Nya.

Perbandingan Luas Indonesia dengan Eropa

Bismillāhirrahmānirrahīm

Ini gambar perbandingan luas antara Eropa (sebagai benua) dengan Indonesia (sebagai negara). Gambar ini saya buat secara sederhana tentu dengan skala yang sama. Negara kita memang luas, kekayaan alam pun tak terbatas, namun kenyataannya masih tertindas, semoga permasalahan negara kita segera tuntas, agar segera terentas dan menjadi negara yang teratas. Amin.

Kita bersyukur telah ditakdirkan menjadi bangsa Indonesia. Bangsa yang memiliki kekayaan dalam segala aspek kehidupan. Namun kenyatanya banyak pemuda kita yang kehilangan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia. Mungkin karena mereka melupakan sejarah leluhurnya. Sangat benar ungkapan “Untuk menghancurkan sebuah bangsa tidak perlu membombardir negara tersebut. Cukup hancurkan ingatan (sejarah) generasi mudanya.”. Dan kerusakan jati diri (bathin) jauh lebih buruk daripada kerusakan akibat bombardir (dzahir).

550px-Indonesia_(orthographic_projection).svg

Boleh diunduh dan disebarkan

Rihlah Malaysia-Thailand 1436 H.

Siang itu, Kamis, 23 Oktober 2014, saya berkunjung ke Malaysia bersama beberapa ulama dari Jawa Timur. Tujuan kami untuk menghadiri acara “Hubungan Mesra Antara Ulama Nusantara dan Ummah”. Saya bisa menghadiri acara ini karena ajakan guru mulia KH. DR. M. Dhiyauddin Kuswandi sehingga saya mendapat tiket dari panitia. Saya senang sekali bisa menghadiri acara ini karena bisa berkumpul bersama para ulama dan para ahbab dari berbagai daerah, ditambah lagi lokasi acaranya bertempat di negeri jiran yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Saya bersama KH. Sufyan Noor, Ustadzah Kausar, Ust. Imaduddin Said, KH. Mas Abdullah Muhajir, KH. M. Husnan, KH. M. Fadli Said, KH. Abdullah Adelan Yasin, dan Mas Zainal Arifin berangkat dari Bandara Juanda Terminal 2 dengan menggunakan Airbus A320 no. penerbangan QZ 322. Sementara Guru Mulia sudah lebih dulu berangkat bersama rombongan penerbangan pagi.

P1010403

Memutar haluan setelah take off di sekitar pantai timur Surabaya

Setelah menempuh perjalanan udara sejauh 1750 km dengan kecepatan rata-rata 756 km/h dan kecepatan maksimal 1049 km/h selama 2 jam 19 menit (berdasarkan data GPS saya), akhirnya kami tiba di Bandara KLIA2 (Kuala Lumpur In’tl Airport 2). Rombongan peserta dari Jawa Timur disambut oleh mudir Madrasah As-Syakirin beserta beberapa santri yang mendapat tugas khidmah istiqbal. Koper yang sedang saya bawa langsung diambil alih oleh Sofyan, sementara Salman mengawal kami ke lokasi parkir mobil penjemput.

Sequence Final Approach, Touch Down… (KLIA2) = hampir sampai di tujuan. :)

Peta Jelajah

Rute penerbangan direkam dengan menggunakan GPS eTrex 30

Di parkir mobil, sudah disediakan kendaraan penjemputan Toyota Commuter, sejenis New Hiace tapi lebih kecil. Saya langsung masuk ke dalam kabin dan duduk di paling belakang. Hafidz yang bertugas khidmah sopir mulai menjalankan mobilnya melewati KLIA Expressway, kemudian keluar di Exit 608 menuju rute jalan E6. Setelah 45 menit perjalanan akhirnya kami sampai di Madrasah At-Tazkiyah, USJ1, Subang Jaya, Selangor.

Menuju Selangor via KLIA Expressway (Tol Bandara)

Madrasah ini adalah satu-satunya madrasah cabang dari Darul Mushthofa Liddirasah Al-Islamiyah, Tarim, Hadramaut, Yaman asuhan Al-Allamah Al-Habib Umar bin  Muhammad bin  Salim bin Hafidz yang berada di luar negara Yaman. Rombongan tamu dari Indonesia hadir ke Madrasah ini, selain untuk silaturrahim juga, untuk menghadiri Haul Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz (Ayah Habib Umar bin Hafidz). Acara ini menambah rute rihlah saya selama di Malaysia.

Sesampainya di At-Tazkiyah, kami istirahat sejenak kemudian sholat. Rombongan ulama dari Indonesia mendapat kehormatan menjadi Imam Sholat Maghrib dan Isya yang di-imami oleh KH. Muhyiddin bin Abd. Qodir Al-Manafi. Selain itu, perwakilan rombongan ulama dari Indonesia diminta memberi mauidzoh.

Menikmati jamuan teh tarik dan hidangan makan malam.

Poster acara Majlis Haul Al Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz dari halaman resmi FB Madrasah At-Tazkiyah.

Berfoto bersama Ust. Sufyan Noor Al-Hafidz (Batu, Malang) dan Maulana Harun (Bandung)

ahmadirfanaw

Suasana acara Haul. Tampak saya sedang berdiri di dekat pengeras suara (sedang memfoto). Foto ini saya ambil dari halaman resmi Madrasah At-Tazkiyah

ahmadirfanaw

Selepas acara menyempatkan diri untuk tabarrukan foto bersama. Dari kanan ke kiri: saya, KH. Muhyiddin bin Abd. Qodir Al-Manafi (Pengasuh Pondok Pesantren Islam Internasional Terpadu Asy Syifaa Wal Mahmuudiyyah, Sumedang), Habib Al-Juanaid (Pengasuh Madrasah At-Tazkiyah, Selangor), Syekh Yusuf Bin Tholib, Umar.

ahmadirfanaw

Habib Mahdi Al-Hamid dari Yaman.

ahmadirfanaw

Habaib yang hadir ke acara Haul (Rombongan Habib Mahdi?)

IMG_20141024_001459

Sebelum pulang dari Madarasah At-Tazkiyah, saya berfoto dengan Sufyan dan Salman. :)

Setelah mengikuti rangkaian acara haul seperti pada umumnya yang terdiri dari pembacaan tahlil sholawat/maulid dhiya’ullami’, mau’idzoh dan doa penutup, tidak terasa waktu setempat (UTC+8) menunjukkan 23:30, acara yang dimulai selepas maghrib baru saja selesai. Kami pun bertolak menuju penginapan yang telah disediakan panitia. Masih dengan mobil yang sama, Hafidz mengantar rombongan mobilnya dengan kencang, sesekali kecepatan di GPS menunjukkan 120 km/h. Dalam waktu kurang dari 38 menit, kami berhasil menempuh jarak 52 km dan tiba di penginapan tepat pada pukul 00:07 Hari Jumat, 24 Oktober 2014. Kami menginap di MyHotel Bandar Seri Putra. Kamar saya no. 307.

ahmadirfanaw

Kebagian satu kamar satu orang.

Hari Jumat pagi, rombongan saya bersama rombongan tamu dari Indoneisa akan menuju negeri Kelantan untuk menghadiri acara inti. Setelah berkemas, saya langsung menuju lobi hotel. Ternyata, di sana ada Guru Mulia Kiai Dhiyauddin Kuswandi. Saya tidak tahu kalau beliau menginap di hotel yang sama. Di depan hotel, sudah siap “Bas Persiaran” (Bus Pariwisata) yang akan membawa kami melintasi jalur perbukitan membelah Semenanjung Malaya. Saya langsung masuk kabin bis bagian belakang. Setelah membaca doa, tidak lupa untuk menyalakan Garmin Etrex 30 GPS untuk merekam jejak selama perjalanan.

Foto bersama Guru. Seperti ayah sendiri.

ahmadirfanaw

Beberapa saat sebelum berangkat. Tampak di belakang konsumsi makan siang sedang dimasukkan ke bagasi oleh petugas khidmat

Tepat pukul 8 lewat 27 menit, bis dengan sasis MAN mulai bergerak, meninggalkan Bandar Seri Putra menuju Kota Bharu. Sepanjang perjalanan, kami melintasi daerah perbukitan batu kapur dan perkebunan kelapa sawit. Medan jalan cukup berliku dan bergelombang. Sampai di daerah Raub, Pahang, rombongan berhenti untuk melaksanakan sholat jumat di Masjid Batu 6 Penjom.

ahmadirfanaw

Suasana selepas sholat jumat di Masjid Batu 6 Penjom, Pahang Darul Makmur

IMG_20141024_134127

“Pesanan ikhlash” yang sangat mengena

Selepas sholat, perjalanan dilanjutkan dan berhenti untuk istirahat dan makan siang di rest area “Hentian Gua Musang”. Setelah menikmati nasi kotak dan menghirup udara pegunungan Gua Musang, perjalanan dilanjutkan kembali ditemani rintik hujan.

ahmadirfanaw

Hentian Gua Musang

ahmadirfanaw

Parkir dan Makan Siang di Gua Musang

ahmadirfanaw

Rute perjalanan menuju Kota Bharu, Kelantan.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 10 jam 36 menit dan menempuh jarak 485 km, Alhamdulillah akhirnya kami sampai di Masjid Al-Sultan Ismail Petra, Kubang Kerian, Kota Bharu, Kelantan Darul Naim pada pukul 19:03 waktu setempat. Rombongan tamu langsung menuju teras masjid lantai dua untuk beristirahat di dalam masjid. Berbagai makanan dan buah-buahan khas selama acara dihidangkan. Kurma, kismis, duku, kopi, teh, dan masakan yang dihidangkan pada acara memiliki rasa yang khas, perpaduan bumbu arab yang kuat dan bumbu lokal yang khas.

ahmadirfanaw

Spanduk acara

ahmadirfanaw

Undangan Acara

ahmadirfanaw

Tempat istirahat saya ( sebelah kanan rak Al-Qur’an) selama 2 hari 2 malam di Masjid Al-Sultan Isma’il Petra

ahmadirfanaw

Menikmati hidangan makan malam bersama rombongan dari Jakarta (Gamis coklat di tengah: Ustadz H. Makbulah, Condet, teman sebangku di bus).

ahmadirfanaw

Masakan Kelantan. Nikmat & Lezat.

ahmadirfanaw

Masakan Kelantan. Beras Merah

IMG-20150418-WA0016

Melayani Syekh Rohimuddin. Saya hanya terlihat pecinya di ujung sebekah kanan.

Congres Ulama and Ummah terdiri dilaksanakan selama dua hari yaitu pada hari Sabtu, 1 dan 2 Muharram 1436 H. Atau bertepatan dengan 25-26 Oktober 2014 bertempat di Masjid Al-Sultan Ismail Petra. Acara ini diselenggarakan oleh Pengurus Masjid Al-Sultan Ismail Petra, bekerjasama dengan Majlis Agama Islam dan Adat Istiadat Melayu Kelantan (MAIK). Diantata Ulama Nusantara yang hadir pada acara ini antara lain Ustadz Sufyaan Noor (Batu, Malang), Maulana Harun (Bandung), KH.  Zainal Abidin Bazul Asyhab (Tasikmalaya), KH. Dhiyauddin Kuswandi (Majlis Tasbih Nusantara), KH. Ali Badri Masyhuri (PP. Ar-Risalah,  Sukorejo, Pasuruan), Syaikh Rohimuddin Nawawi (Markaz Dar El Hasani),  KH Hanif Muslih (Al-Futuhiyah, Mranggen), KH Thobari Sadziliy (SARKUB, Banten), KH Said Abdurohim (PP MUS Sarang), Gus Zaim (Lasem), KH Masruhin (PB. LDNU Jakarta), KH Abdullah Munif Marzuki dan KH Ahsan Ghozali (PP Langitan Tuban), KH Faqih Imam (Ash Shofwah Al-Malikiyah), KH Masyhudi PP Annur Bululawang (LBM PBNU), KH Roziqin Jepara (PWNU Jawa Tengah), KH Badawi Jekulo Kudus, KH Mustofa Abdullah Nuh (Bogor), KH Khoirul Anam (PP Tunggulwulung Malang), Habib Ali bin Yahya Jakarta, dan beberapa kiai lainnya. Dalam acara ini, para kiai juga bersilaturahim dengan beberapa ulama Alam Melayu serta berkunjung ke beberapa pesantren/madrasah di Malaysia dan Thailand.

Tema sentral yang dibahas pada kongres ini mengarah kepada upaya persautan antar sesama ulama dan ummat dalam rangka mengembalikan nilai-nilai spiritual di Nusantara sebagai modal dalam mengawal kebangkitan Islam di akhir zaman di seluruh alam. Dari hasil pertemuan direncanakan kegiatan ini bisa terlaksana setiap tahun.

ahmadirfanaw

Sambutan Shohibus Samahan Dato Mufti Kelantan

IMG_20141026_113044

Syekh DR. M. Dhiyauddin Kuswandi sedang menyampaikan tema kebangkitan Islam Akhir Zaman

Ahad sore, 26 Oktober 2014, Kongres Ulama dan Ummah telah selesai dilaksanakan, acara selanjutnya silaturrahim kepada para babo/baba di Fathoni Darussalam (Pattani). Sebelum meninggalkan Kelantan, kami menyempatkan berkunjung ke Madrasah Diniah Bakriah yang terletak kira-kira 11 km dari Kota Bharu. Madrasah ini juga dikenal dengan nama Pondok Terusan Limbat, Pasir Tumboh.

ahmadirfanaw

Santri Pasir Tumboh menyambut kedatangan kami dengan bersalaman.

ahmadirfanaw

Foto sebelum melanjutkan perjalanan.

Sekitar 45 menit di Pondok Pasir Tumboh, kami melanjutkan perjalanan berikutnya menuju Thailand. Setelah menempuh jarak 45 km akhirnya kami tiba di pintu keluar Malaysia Rantau Panjang dan berbatasan langsung dengan Distrik Sungai Kolok/Sungai Golok (สุไหงโก-ลก) Provinsi Narathiwat (นราธิวาส), Thailand.

ahmadirfanaw

Antri Cop Paspor Imigrasi Sungai Golok

Dari Sungai Golok kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Narathiwat dengan jarak tempuh kurang lebih 70 km. berdasarkan perhitungan GPS. Tujuan pertama kami di Thailand adalah Markaz Jamaah Tabligh, Yala yang terletak sekitar 95 km di barat laut Kota Narathiwat. Suasana Thailand selatan masih sangat kental dengan nuansa Melayu karena sebenarnya daerah ini dulunya termasuk dari kekuasaan Sriwijaya[1]. Karena kelelahan, saya tertidur dalam ayunan suspensi MAN di atas medan jalan 4084, tak terasa ternyata sudah sampai di Yala pada sekitar jam 21:00 waktu setempat dalam keadaan gerimis. Saya langsung menuju ruang istirahat yang telah disediakan para ahbab. Setelah sholat dan makan malam, tibalah waktunya istirahat.

ahmadirfanaw

Tempat Istirahat Kami di Lantai 2

 

Senin pagi, 27  Oktober 2014: Sholat subuh berjamah dilanjutkan mendengarkan bayan yang disampaikan oleh Maulana Harun. Setelah selesai jama’ah subuh, saya bersama rombongan tamu berkeliling sambil menghirup udara pagi yang dingin dan berkabut untuk melihat situasi pemandangan pagi di sekitar Markaz.

Ruangan Dalam Masjid An-Nur, Yala, Thailand.

 

ahmadirfanaw

Teras Masjid An-Nur, Yala, Thailand.

 

IMG_20141027_071421

Asrama dan Madrasah Markaz Yala bernuansa Markaz Nizamuddin, India.

ahmadirfanaw

Berfoto bersama santri Yala

ahmadirfanaw

KH. Hanif Muslih PP. Futuhiyah, Mranggen, Demak dan KH. Zaim Ma’shum PP. Kauman Lasem, Gus Faiz Hanif.

ahmadirfanaw

Di Halaman Markaz

Setelah menikmati makan pagi dengan cara yang khas (duduk bersila dan saling berhadapan), rombongan melanjutkan perjalanan menuju jantung kota Pattani (Fathoni Darussalam). Bersambung

Penyusunan Buku Silsilah Keluarga

Bismillāhirrahmānirrahīm

Menurut saya; Silsilah adalah sebuah catatan yang menjelaskan asal-asul, keturunan, serta hubungan kekerabatan suatu keluarga yang ditulis berdasarkan riwayat secara turun menurun atau berdasarkan hasil cacah jiwa (sensus). Silsilah dapat ditulis dalam bentuk diagram pohon, tulisan sejarah, atau dalam bentuk daftar nama. Pertama kali saya mengenal silsilah bermula ketika saya disuruh (e pakon) menggambar silsilah menggunakan komputer oleh almarhum paman KH. Moh. Tsabit Khazin (Guluk-Guluk, Sumenep) pada bulan Safar 1431 H. (Februari 2010). Sejak saat itu saya mulai tertarik untuk mempelajari silsilah. Alhamdulillāh berkat bimbingan beliau, sedikit demi sedikit saya mulai tahu nama-nama leluhur yang sebelumnya belum pernah saya ketahui, dapat menziarahi makamnya, serta dapat mengenal saudara baru, bahkan ada yang memang sudah kenal lama tapi baru tahu kalau masih saudara. Bagi saya, mengetahui silsilah keluarga merupakan nikmat tersendiri. Banyak hikmah di dalamnya.

Saat ini saya sedang menyusun buku silsilah keluarga untuk meneruskan usaha yang telah dilakukan oleh almarhum KH. Moh. Tsabit Khazin (Guluk-Guluk, Sumenep) dan almarhum KH. Muzammil Minhaji (Sumberanyar, Tlanakan, Pamekasan) dalam melakukan pencatatan silsilah  keluarga. Untuk itu diperlukan kerjasama antar sesama keluarga besar agar penyusunan silsilah ini dapat segera selesai dan dapat bermanfaat bagi keluarga besar pada khususnya sehingga dapat menjadi sarana silaturrahīm diantara keluarga. Bersatunya keluarga besar adalah bersatunya umat Islam.

Silsilah yang sedang saya susun adalah silsilah keturunan: KIAI ABDUL AKHIR (Dimakamkan di Arongan, Ganding, Sumenep) BIN KIAI DZU-SHIDQI (Bermukim di Karongkong, Matanair, Rubaru, Sumenep dan dimakamkan di Balang, Pakondang, Rubaru, Sumenep?) BIN KIAI ABDUL KARIM (Dimakamkan di Balang, Pakondang, Rubaru, Sumenep dan merupakan saudara KIAI MUBAN BATANG-BATANG) BIN KIAI SYITS BIN SUNAN CENDANA (Dimakamkan di Kwanyar, Bangkalan). Silsilah yang disusun adalah mencatat semua keturunan KIAI ABDUL AKHIR sampai keturunan yang ke-10. Penyusun sendiri adalah keturunan ke-8. Scara ringkas silsilah KIAI ABDUL AKHIR dapat dijelaskan sebagai berikut:

KIAI ABDUL KARIM BALANG diketahui berputra:

1. K. Abd. Quddus – Karangduak.
2. K. Abd. Adil – Balang.
3. K. Dzu Limmah – Kokap.
4. K. Dzu Shidqi – Karongkong.
5. K. Abd. Qodir – Panjalin.
6. Ny. Aminah – Toros.
7. Ny. Nur Syafi – Anjuk.

K. DZU-SHIDQI
diketahui berputra:
1. K. Abd. Akhir – Arongan.
2. Ny. Rasukma – istri Angung Sarba, Dampol.

K. ABD. AKHIR
diketahui berputra:
1. K. Abd. Qorib – Pakamban Daja.
2. K. Harun – Arongan.

KIAI ABD. QORIB (Bujuk Damar) BIN ABD. AKHIR
diketahui berputra:

1. K. ISMA’IL BIN ABD.QORIB– Kembangkuning.
berputra:
1.1. K. Zainuddin
1.2. Ny. Nursari – Kembangkuning.
1.3. K. Musthofa
1.4. K. Tijani
1.5. Syafrowi/Marzuqi
1.6. K. Mudarik – Panggung Galis.
1.7. K. Kolpoh

2. NY. MURDHIYAH BNT ABD. QORIB – Lembung.
berputra:
2.1. K. Idris – Patapan.
2.2. Ny. Nuri’a – Lembung.
2.3. K. Mas’ud – Lembung.

3. NY. RABI’AH BNT ABD. QORIB – Aengpanas.
berputra:
3.1. Ny. Nurdina – Aengpanas.
3.2. Ny. Dahni – Aengpanas.
3.3. Ny. Nurillah – Aengpanas.

4. NY. PANGGUNG BNT ABD. QORIB  – Toronan.
berputra:
4.1 Ny. Hasan (nenek K. Itsbat bin Ishaq bin Hasan) – Pamekasan
(mengenai keturunan Nyai Panggung saya masih menunggu tahqiq dari pihak Bani Itsbat).

5. K. SYIHABUDDIN BIN ABD. QORIB – Pakamban Daja.
berputra:
5.1. K. Syu’batul Iman – Panggung, Pakamban.
5.2. K. Fakhrul Islam – Panggung, Pakamban.

Apabila diantara para pembaca ada keterkaitan dengan tulisan ini, saya mengharapkan saran dan masukan untuk penyempurnaan. Jazakumullah.

format_silsilah

Contoh Format Penulisan Silsilah

Wallahu A’lam

Ttd. Ahmad Irfan AW
Sabajarin, Guluk-Guluk, Sumenep.
Tel./SMS/WhatsApp: 081803205501

Analisis Pasang Surut dengan World Tides

WORLD TIDES adalah program komputer untuk menganalisis dan memprediksi pasang surut. Pertama kali saya menggunakan aplikasi ini saat saya magang di Laboratorium Oseanografi Fisika, Bidang Dinamika Laut, Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI dibawah bimbingan Bapak M. Furqon Aziz Isma’il M.Sc. WORLD TIDES berbasis pemrograman MATLAB menggunakan metode Fourrier Transform untuk menganalisis data deret waktu perubahan pasang surut laut. WORLD TIDES memiliki  Graphical User Interface (GUI) untuk memudahkan usernya dalam melakukan pemisahan dari serangkaian waktu pengukuran ketinggian air menjadi komponen-komponen pasang surut dan non-pasang surut dengan menggunakan seleksi kuadrat terkecil. Setelah menyimpan konstanta pasang surut untuk konstituen yang dipilih selama analisis, pengguna dapat menghasilkan prediksi pasang susut astronomi, variasi ketinggian air  diketahui dari perhitungan interaksi gravitasi antara bumi, bulan dan matahari.

WORLD TIDES adalah program komputer yang dijalankan dari aplikasi pemerograman MATLAB®, sebuah produk dari The MathWorks, Inc. Program ini dapat dijalankan pada aplikasi pemerograman MATLAB® versi 7.0.4 atau yang lebih tinggi dan dijalankan di komputer desktop dengan sistem operasi MS Windows XP. Pada saat magang komputer yang digunakan adalah Windows 7 dan WORLD TIDES dapat berjalan dengan baik.

Proses Analisis Data Pasang Surut dengan Menggunakan Program Komputer WORLD TIDES

Sebelum menganalisis data dengan menggunakan program komputer WORLD TIDES, data pasang surut harus terlebih dahulu disiapkan dengan menggunakan satuan tanggal pengamatan Julian Day. Data ketinggian air dapat berupa data tiap menit, tiap 5 menit, atapun tiap 15 menit. Data yang digunakan pada saat magang adalah data tinggi air tiap menit selama 45 hari, sehingga data keseluruhan yang akan dianalisis sebanyak 65.536 data.

1

Gambar 1.1 Data tinggi air setiap satuan waktu Julian Day

Untuk menggunakan satuan tanggal Julian Day pada tanggal pengamatan, terlebih dahulu harus mengetahui angka Julian Day untuk 1 November 2010. Angka Julian Day ini diperoleh dari penjumlahan dari 1 Januari 2010 yang bertambah 1 setiap 1 harisecara terus menerus. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa 1 November 2010 adalah hari ke-305 dari tahun 2010. Permasalahan timbul ketika Julian Day yang dibutuhkan tidak hanya untuk tiap satuan hari namun untuk tiap satuan menit. Maka diperlukan perhitungan sebagai berikut:

Julian Day 1 NOV 2010 0:01  = 305+1/(24*60)
Julian Day 1 NOV 2010 0:01  = 305,00069444

Julian Day 2 NOV 2010 0:02 = 305,00069444+1/(24*60)
Julian Day 2 NOV 2010 0:02 = 305,00138889

Dan seterusnya

Setelah data pasang surut telah disiapkan, selanjutnya menjalankan aplikasi pemerograman MATLAB® R2013a. Pada menu MATLAB, cari folder lokasi penyimpanan program komputer Wordtides & Worldcurrents 2010 (WORLD TIDES), jika belum punya aplikasinya silahkan download di sini. Kemudian klik kanan pada file program komputer “WTWC.fig”, pilih “Run”. Akan muncul tampilan seperti di bawah ini:

3

Gambar 1.2 Tampilan program komputer WORLD TIDES

Pada menu “TIDE”, klik “Analysis”. Selanjutnya pada menu “Water Levels Analysis” memanggil data pasang surut dalam format *.xls yang telah disiapkan dengan meng-klik tombol “SELECT .xls File”. Setelah proses reading data selesai, kemudian memilih konstanta pasang surut yang akan dianalisis sesuai dengan kebutuhan dengan meng-klik pada cheklist button, terakhir klik “ANALYZE”.

 

4

 

Gambar 1.3 Tampilan halaman Water Levels Analysis

Hasil Analisis Data Pasang Surut dengan Menggunakan Program Komputer WORLD TIDES

Hasil analisis data pasang surut dengan menggunakan menu “Water Levels Analysis” pada program komputer “WORLD TIDES” ditampilkan pada Gambar 1.4 dan Gambar 1.5.

Pada gambar 1.4 terdapat tiga grafik pasang surut yang digambarkan dalam warna yang berbeda. Grafik warna merah menunjukkan kondisi pasang surut hasil pengamatan di lapangan, grafik warna biru menunjukkan kondisi pasang surut hasil perhitungan secara astronomis, sedangkan grafik warna hijau menunjukkan perubahan muka laut non-pasut (residual).

MATLAB Handle Graphics

Gambar 1.4 Grafik pasang surut di Pulau Pari
hasil analis WORLD TIDES (Muka rerata: 1.06 m)

Hasil analisis Fourier Transform untuk mengetahui tipe pasang surut dan besarnya energi pasang surut dapat dilihat pada Gambar 1.5. Gambar 1.5 merupakan hasil transformasi pasang surut dari domain periode (waktu) menjadi domain frekuensi. Dari gambar tersebut dapat diketahui terjadi satu kali pasang surut dalam satu hari, hal ini ditransformasikan pada frekuensi pertama. Sedangkan pada frekuensi kedua menunjukkan adanya pasang surut susulan yang biasa terjadi pada saat seperempat pertama dan seperempat terakhir setiap bulannya.

Dari gambar 1.5 di bawah dapat disimpulkan bahwa tipe pasang surut di Pulau Pari bertipe pasang surut harian tunggal (diurnal), atau terjadi satu kali pasang surut dalam sehari. Hal ini dapat dibuktikan dari perhitungan Formzhal = 4,45 .

2

Gambar 1.5 Hubungan antara frekuensi dan energi pasang surut
yang terjadi di Pulau Pari berdasarkan hasil analis WORLD TIDES

3

Gambar 3.9 Grafik kondisi pasang surut selama 3 hari di Pulau Pari
berdasarkan hasil analis WORLD TIDES (menunjukkan diurnal).

Tabel 1. Komponen pasang surut Pulau Pari hasil analis WORLD TIDES

12

Tabel 1. Komponen pasang surut Pulau Pari hasil analis WORLD TIDES

Hasil perhitungan komponen pasang surut Pulau Pari dengan menggunakan persamaan formzhal menunjukkan angka 4,45 (>3) yang berarti kondisi pasang surut di Pulau Pari bertipe harian tunggal (diurnal).

F = (K1+O1)/(M2+S2)
F = (0.307+0.147)/(0.055­­­+0.047)
F = (0,454)/(0.102)
F = 4,45

Rumus Kebahagiaan Sejati

Rumus Kebahagiaan Sejati
Bagi Para Pecinta Ilahi Rabbiy

Manusia akan damai bersama yang dicintai
Sejatinya diri terletak pada ruhani
Ruhani hanya mencintai Rabb-nya
Maka manusia hanya akan damai apabila ia dekat dengan Rabb-nya

 

Gerbang dari Sebuah Perjalanan Panjang

Perjalanan panjang penuh liku dan ujian
dilalui dengan sabar dan lapang
hilang, lenyap, dalam semalam
di depan sebuah gerbang

Kini telah sampai pada sebuah jawaban
yang dapat menjawab semua kesedihan
menerima semua ujian dan rintangan
dalam menjalani semua kenyataan
Maka Maha Suci Engkau dan segala puji sepanjang siang dan malam

Al-Faqīr ilā Rabb-ul Jalīl Ibn Waqti Ahmad ‘Abdul Adzīm Khālid
Nderesmo, Surabaya – Ahad, 3 Rabi’ al-Awwal 1435 H (05/01/2014 )

Embun Pagi di Kelopak Mawar

Oleh: Murabbi-r Rūh Abuya DR. KH. M. Dhiyā’uddīn Kuswandhi (HafidzahuLlāh)
Sabtu, 02 Rabi’ul Awwal 1435 H/04 Januari 2014 | 06:30 GMT+7

Bagai embun jatuh di kelopak mawar di pagi hari
Begitu bening, sejuk, segar dan damai

Demikianlah jika cinta sejati menyentuh hati
Jiwa terasa sejuk, damai dan indah tiada terperi.

O embun yg suci kaulah sari pati air langit dan bumi
Yang selalu hadir hanya di keheningan pagi
Bukan disaat dinginnya malam atau teriknya siang hari.

Semua itu adalah tamsil bagi mereka yang bijak bestari
Bahwa cinta sejati sebagai sari pati kehidupan yang fitri
tidak kan datang kecuali dihati yg bersih dan suci
yg telah terbebas dari dualisme suka dan benci marah dan birahi.

O terberkatilah kalian semua yg mengerti
rahasia dari kebahagiaan yang hakiki dan abadi ini.

Damai
Damai
Damai.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 5.340 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: